KEDIRI — Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Kabupaten Kediri, Jawa Timur menghadirkan pola pendidikan yang memadukan pembelajaran, pembentukan karakter, dan kehidupan asrama.
Konsep tersebut membuat aktivitas siswa tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga membangun kebiasaan positif dalam kehidupan sehari-hari.
Suasana belajar yang nyaman menjadi salah satu pengalaman yang dirasakan Muhammad Iddika Muhtar atau Dika selama menempuh pendidikan di SRT 1 Kediri.
Siswa asal Desa Tengger Lor, Kecamatan Kunjang, itu menilai lingkungan sekolah barunya menawarkan pengalaman berbeda dibandingkan sekolah yang pernah dijalaninya.
“Bedanya dari sekolah dulu jauh, Bang. Fasilitasnya, terus kalau ujian ini tidak ada yang bikin takut, yang ada malah senang,” kata Dika yang berasal dari Desa Tengger Lor, Kecamatan Kunjang, Kediri, Jumat (4/9/2026).
Menurut Dika, lingkungan sekolah yang luas serta fasilitas penunjang membuat siswa memiliki banyak ruang untuk belajar dan beraktivitas.
Taman yang tertata dan lapangan lari menjadi sejumlah fasilitas yang kerap dimanfaatkan Dika bersama teman-temannya di sela kegiatan sekolah.
Interaksi dengan guru juga menjadi bagian penting dari pengalaman belajar Dika karena para pengajar dinilainya mampu menciptakan suasana yang bersahabat.
“Bapak ibu gurunya, alhamdulillah ramah,” ujar Dika.
Tinggal di Asrama Melatih Kedisiplinan
Kehidupan asrama menjadi pengalaman lain yang ikut membentuk kebiasaan siswa di Sekolah Rakyat Kediri.
Dika tinggal bersama 14 siswa lainnya dalam satu kamar sehingga mereka belajar membangun kebersamaan sekaligus menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial yang baru.
Rutinitas harian di asrama juga menjadi media untuk mengenalkan kedisiplinan melalui berbagai aturan sederhana yang harus dipatuhi seluruh siswa.
Salah satunya adalah kewajiban berjalan secara tertib ketika menuju ruang kelas, kantin, maupun masjid dalam lingkungan sekolah.
Siswa juga diajarkan menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan dengan tidak menginjak rumput atau merusak fasilitas yang tersedia.
“Aturan yang sering diingatkan guru, kalau jalan ke masjid, ke kelas, atau ke kantin harus berbaris. Sama tidak boleh injak rumput,” jelasnya.
Selain membangun kedisiplinan, sekolah tetap memberikan ruang kepada siswa untuk mengembangkan kemampuan melalui berbagai kegiatan di luar pembelajaran utama.
Kegiatan seni dan olahraga menjadi wadah bagi siswa untuk mengeksplorasi minat sekaligus mengembangkan potensi yang dimiliki sejak dini.
Bagi Dika, kesempatan tersebut penting karena ia memiliki cita-cita untuk terus bersekolah sekaligus mengembangkan kemampuan bernyanyi.
“Ingin melanjutkan sekolah terus, habis itu menggapai cita-cita,” kata Dika.
Kehadiran Sekolah Rakyat diharapkan mampu menciptakan proses pendidikan yang lebih menyenangkan sekaligus menumbuhkan kemandirian dan karakter positif siswa.
Pendekatan pembelajaran yang ramah dan dukungan fasilitas menjadi modal untuk meningkatkan semangat belajar peserta didik.
Program tersebut juga membuka kesempatan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk mendapatkan lingkungan pendidikan yang layak dan mendukung perkembangan potensi mereka.
Pengalaman Dika memperlihatkan bahwa pendidikan berbasis asrama dapat menjadi ruang untuk mengasah kemampuan akademik sekaligus membangun kebiasaan disiplin.
Kisah lengkap Muhammad Iddika Muhtar mengenai pengalaman belajar di Sekolah Rakyat Kediri dapat disaksikan melalui Podcast Sinergi Indonesia di kanal YouTube Badan Komunikasi Pemerintah RI.***
