LABUAN BAJO — Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak para siswa seminari SMAK St Yohanes Paulus II di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), mendoakan warga yang terdampak gempa Flores.
Ajakan tersebut disampaikan Nasaruddin ketika mengunjungi sekolah calon pastor itu pada Kamis (3/9/2026) sore, didampingi sejumlah pejabat Kementerian Agama serta Uskup Labuan Bajo Mgr Maksimus Regus.
Dalam kesempatan tersebut, Menag mengajak siswa menyampaikan doa bagi masyarakat yang masih menghadapi dampak gempa Flores dan berharap proses pemulihan dapat berlangsung dengan kekuatan serta pengharapan.
“Kita berdoa semoga saudara-saudara kita yang tertimpa musibah sesegera mungkin diberikan pengharapan baru. Kita ingatkan kepada mereka bahwa musibah itu ujian,” katanya dikutip dari laman Kemenag.
Menurut Nasaruddin, musibah perlu dihadapi dengan keteguhan hati dan keyakinan kepada Tuhan, termasuk ketika seseorang menghadapi berbagai persoalan dalam kehidupannya.
“Boleh jadi ini adalah musibah buat kita, tetapi di mata para malaikat, ini adalah baik buat kita. Jadikanlah cobaan ini sebagai anak tangga yang paling cepat mendekati Tuhan Yang Maha Pengasih,” tuturnya.
Menag Serahkan Bantuan untuk Siswa Seminari
Selain mengajak siswa berdoa, Nasaruddin juga menyerahkan bantuan makanan secara simbolis berupa dua kardus biskuit kepada perwakilan siswa di halaman seminari.
Ia berharap para siswa yang tengah menjalani pendidikan dapat tumbuh menjadi pribadi yang memiliki kedekatan spiritual sekaligus mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Saya berdoa agar kalian di sini bukan hanya disayang oleh Tuhan, tetapi juga disayang oleh umat. Jadilah bermanfaat untuk umat,” pesan Nasaruddin.
Menag juga mengingatkan para siswa agar mampu menjadi figur yang dapat diteladani masyarakat setelah menyelesaikan pendidikan di seminari.
“Jadilah teladan di dalam masyarakat,” ujarnya.
Pendidikan Seminari Tak Hanya Soal Akademik
Nasaruddin menilai pendidikan di seminari memiliki peran penting dalam membangun karakter, selain mengembangkan kemampuan akademik dan nonakademik para siswa.
Ia menegaskan keberhasilan pendidikan tidak semata-mata dapat diukur melalui nilai akademik, tetapi juga melalui kualitas karakter yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari.
“Prestasi itu ditunjukkan bukan saja dengan nilai rapor kita yang sangat tinggi, tetapi karakter kita pun juga harus mendapatkan rapor yang sangat tinggi,” imbuhnya.
Kunjungan tersebut turut dihadiri Kepala Kanwil Kemenag NTT Fransiskus Kariyanto, Plt Dirjen Bimas Katolik Adiyarto Sumarjono, Staf Khusus Menag Ismail Cawidu dan Gugun Gumilar, serta Kepala Biro Umum Kemenag Aceng.
Kehadiran Menag bersama Uskup Labuan Bajo dalam kunjungan itu sekaligus memperlihatkan perhatian terhadap pendidikan keagamaan dan penguatan nilai kemanusiaan di tengah masyarakat terdampak bencana.***