Seorang pakar konstruksi bawah tanah yang terlibat langsung dalam operasi penyelamatan dramatis di lokasi bencana PLTA Trishuli 3A, Nepal, membeberkan kisah mendebarkan di balik evakuasi korban selamat dari dalam terowongan yang tertimbun longsor.
Arnold Dix, Presiden International Tunnelling and Underground Space Association, ditunjuk menjadi penasihat otoritas Nepal untuk menembus terowongan yang hancur diterjang banjir bandang dahsyat di perbatasan Nepal-Tiongkok. Bencana itu dilaporkan telah menelan lebih dari 1.300 korban jiwa.
“Menemukan dua korban selamat pada Jumat lalu terasa seperti keajaiban yang berlapis-lapis, mengingat betapa ekstremnya rintangan yang kami hadapi di lapangan,” ungkap Dix kepada BBC.
Mencari Pintu Terowongan yang ‘Hilang’ Ditelan Avalans
Rintangan pertama yang dihadapi tim SAR adalah menemukan kembali mulut terowongan. Bentang alam lokasi kejadian telah berubah total hingga tak lagi mengenali kontur aslinya akibat tertimbun material longsoran yang sangat masif.
“Saya belum pernah menangani operasi SAR di mana kami harus melacak pintu masuk terowongan yang tadinya berada di bukit, tetapi mendadak terkubur jauh di dalam tanah. Longsoran yang menimbunnya benar-benar luar biasa besar,” jelas Dix.
Mengandalkan rekayasa teknik, peta topografi lama, citra satelit pascabencana, rekaman video helikopter, hingga memetakan tiang-tiang listrik yang masih tersisa di permukaan gunung, Dix dan timnya berhasil melakukan kalkulasi triangulasi posisi mulut terowongan dan mulai menggali.
Ledakan Presisi Militer dan Drainase Air
Setelah menemukan pintu masuk, tantangan berikutnya jauh lebih berbahaya. Terowongan sepanjang ratusan meter itu tersumbat total oleh lumpur pekat dan batu-batu raksasa seukuran mobil. Tak hanya itu, rongga terowongan juga tergenang air dalam jumlah besar.
Tim penyelamat terpaksa mengambil keputusan ekstrem yang berisiko tinggi: menggunakan bahan peledak untuk menghancurkan batu-batu penyumbat.
“Dalam kondisi normal, kami tidak akan pernah menggunakan peledak karena risiko meruntuhkan struktur atau memicu ledakan yang menewaskan korban di dalam maupun tim kami sendiri. Namun, militer Nepal melakukan pekerjaan yang sangat mengagumkan lewat perhitungan ledakan yang amat presisi,” puji Dix.
Untuk mengatasi genangan air, tim menggunakan ekskavator dan mesin pompa guna membuat parit darurat dari dalam terowongan menuju aliran sungai di luar, sehingga air dapat dikuras bertahap.
Jalur Tikus di Atas Atap dan Momen Kemanusiaan
Strategi utama tim adalah menggali lorong penyelamatan berukuran sangat sempit—hanya cukup dilalui satu badan manusia—di bagian paling atas debris.
“Keuntungan menggali di langit-langit terowongan adalah kami bisa memanfaatkan atap terowongan asli sebagai atap lorong kecil kami, sekaligus menekan risiko tenggelam jika air mendadak naik,” papar Dix.
Pada Jumat dini hari, keajaiban itu terjadi. Tim penyelamat mendengar samar-samar suara manusia dari balik kegelapan lorong. Setelah berteriak memberitahukan kedatangan tim SAR, mereka mendapat respons lemah dari dalam.
Dua pekerja, Sanjaya Shah dan Kabir Maharjan, berhasil ditarik keluar dalam keadaan hidup.
Menuju ‘Zona Goldilocks’ Demi Korban Lainnya
Meski dua nyawa berhasil diselamatkan, misi ini masih jauh dari kata selesai. Puluhan orang diperkirakan masih terjebak di dalam stasiun pembangkit listrik yang berjarak sekitar 150 meter lagi dari titik penggalian saat ini.
Tim kini mengarahkan sasaran ke wilayah yang disebut Dix sebagai Goldilocks Zone—sebuah area di tingkat paling atas bangunan stasiun PLTA yang diperkirakan masih memiliki kantong udara dan ruang aman bagi manusia untuk bertahan hidup.
“Berhasil menyelamatkan dua orang memberikan kami energi baru bahwa metode kalkulasi kami bekerja dengan baik. Jika ini permainan kasino, mungkin orang akan menyuruh kami berhenti saat menang. Namun bagi kami, permainan baru saja dimulai—kami akan terus menggali sampai seluruh korban ditemukan,” pungkas Dix.