Unggahan media sosial yang memperlihatkan fenomena mencekam langit berwarna merah pekat di wilayah Kalimantan pada Sabtu (19/9/2026) mendadak viral dan memicu keprihatinan publik. Peristiwa tersebut dipastikan merupakan dampak langsung dari krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masif yang melanda pulau tersebut selama beberapa pekan terakhir.
Seruan darurat berulang kali dilayangkan warga di media sosial. Akun X @ind********** menyoroti situasi kian kritis di Ray 3, Desa Puntik, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, di mana kobaran api dilaporkan makin mendekati kawasan permukiman penduduk.
Dampak karhutla pada 2026 tercatat sangat mengkhawatirkan. Data sistem pemantauan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) per Minggu (20/9/2026) mencatat lebih dari 202.000 hektare lahan hangus yang tersebar di 3.212 titik kejadian pada 340 kabupaten/kota. Lonjakan titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi bahkan menyentuh angka sekitar 11.000 titik sepanjang September.
BMKG Konfirmasi Level Berbahaya di Palangka Raya dan Kutai Timur
Sekretaris Utama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Guswanto, membenarkan bahwa perubahan warna atmosfer menjadi merah-oranye di Kalimantan pada 19 September terkait erat dengan kepulan asap pekat karhutla.
Pada Sabtu lalu, lonjakan titik panas di Indonesia menembus 1.323 titik, dengan 1.035 titik panas terkonsentrasi di Kalimantan Tengah.
“Konsentrasi partikel debu halus PM2,5 di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, menembus angka 621,6 mikrogram per meter kubik pada Sabtu malam dan 573,1 mikrogram per meter kubik pada Minggu pagi. Ini sudah berada di tingkat sangat berbahaya,” jelas Guswanto saat dihubungi Kompas, Minggu (20/9/2026).
Sebagai perbandingan, standar ambang batas aman kualitas udara yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) hanyalah 25 mikrogram per meter kubik. Pergerakan angin barat daya turut membawa kepulan asap hingga memicu henti sementara kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka di Kutai Timur, serta mengganggu jadwal penerbangan di Bandara A.P.T. Pranoto, Samarinda.
Penjelasan Ilmiah: Mengapa Langit Menjadi Merah?
Guswanto meluruskan anggapan bahwa warna merah darah pada langit menjadi indikator tunggal besarnya kobaran api di bawahnya. Secara meteorologis, fenomena ini dipicu oleh interaksi fisika cahaya matahari dengan partikel mikroskopis (haze).
“Warna merah atau oranye muncul karena partikel asap pekat menyebarkan cahaya matahari (fenomena scattering). Konsentrasi tinggi PM2,5 dan partikel lain membuat cahaya tampak lebih merah atau oranye, ditambah sudut matahari baik di waktu pagi maupun sore hari yang memperkuat efek warna tersebut,” paparnya.
BMKG juga mengingatkan bahwa kondisi atmosfer yang terik dan sangat kering akibat dampak El Nino kuat memperparah penyebaran api. Berdasarkan pantauan Satelit Himawari-9, sebaran kabut asap karhutla Indonesia kini tidak hanya mengepung Kalimantan, tetapi juga terdeteksi merambah wilayah Sumatra, Maluku, hingga Papua.