NEW YORK, AS – Presiden Iran Masoud Pezeshkian tiba di New York, Amerika Serikat, untuk menghadiri Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-81 di tengah ketegangan yang masih membayangi kawasan Timur Tengah.
Pezeshkian bertolak menuju New York pada Selasa (22/9/2026). Kehadirannya menjadi perhatian karena ia merupakan pejabat tertinggi Iran yang datang langsung ke Amerika Serikat sejak perang di Timur Tengah berkecamuk pada akhir Februari 2026.
Sebelum keberangkatan, Pezeshkian menyampaikan sikap Iran melalui siaran televisi pemerintah. Ia menegaskan bahwa Teheran akan tetap mempertahankan posisi serta hak-haknya dalam menghadapi tekanan di tingkat internasional.
“Kita berhasil menghadapinya dengan kepala tegak, dan ini merupakan sumber martabat dan kebanggaan bagi kita semua,” ujar Pezeshkian.
Pezeshkian dijadwalkan menyampaikan pidato dalam Debat Umum Majelis Umum PBB pada Rabu (23/9/2026) waktu setempat. Dalam kesempatan tersebut, ia akan membawa pesan Iran terkait situasi yang tengah dihadapi negaranya sekaligus menyampaikan sikap Teheran kepada masyarakat internasional.
Ada dua hal utama yang hendak disampaikan Pezeshkian. Pertama, menjelaskan kepada rakyat Iran mengenai kondisi sulit yang dihadapi negara tersebut. Kedua, mengirimkan pesan kepada pihak-pihak yang dianggap sebagai musuh bahwa Iran tetap bertahan dan tidak akan menyerah menghadapi tekanan.
Ia menegaskan pidatonya akan mencerminkan sikap bangsa Iran yang tetap mempertahankan pendiriannya meski menghadapi berbagai bentuk ketidakadilan dan tindakan yang dinilai sewenang-wenang.
Kunjungan Pezeshkian berlangsung dalam situasi hubungan Iran dan Amerika Serikat yang masih tegang. Kondisi tersebut berkaitan dengan perang di Timur Tengah yang dipicu serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap sejumlah target strategis di Iran pada akhir Februari 2026.
Sebelum kedatangan Pezeshkian, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi telah lebih dulu tiba di New York pada Senin (21/9/2026). Araghchi menjadi pejabat tinggi Iran pertama yang datang ke Amerika Serikat sejak konflik bersenjata tersebut pecah.
Setibanya di New York, Araghchi melakukan komunikasi melalui telepon dengan Sekretaris Jenderal PBB António Guterres. Pembicaraan itu membahas sejumlah persoalan penting yang menjadi bagian dari agenda Sidang Majelis Umum PBB tahun ini.
Araghchi juga menegaskan pentingnya forum PBB bagi Iran untuk menyampaikan sikap resmi pemerintah kepada dunia internasional.
“Tujuan terpenting kami adalah memanfaatkan platform internasional yang besar ini untuk membela legitimasi, hak-hak, dan kepentingan rakyat Iran,” kata Araghchi kepada wartawan Iran.
Sidang Majelis Umum PBB ke-81 berlangsung di Markas Besar PBB, New York, pada 18 hingga 28 September 2026. Sementara itu, agenda utama Debat Umum digelar pada 22 hingga 28 September.
Pemerintah Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump memberikan izin masuk bagi delegasi Iran untuk mengikuti rangkaian agenda tersebut. Namun, Washington memberlakukan sejumlah pembatasan terhadap aktivitas delegasi Iran selama berada di New York.
Salah satu pembatasan yang diterapkan berkaitan dengan aktivitas pembelian barang bernilai tinggi atau barang mewah selama delegasi berada di wilayah tersebut.
Selain pembatasan aktivitas, proses pemberian visa juga menjadi persoalan bagi rombongan Iran. Pezeshkian berangkat ke New York tanpa sejumlah anggota tim komunikasi kepresidenan setelah permohonan visa mereka ditolak oleh otoritas Amerika Serikat.
Juru bicara Presiden Iran, Habibollah Abbassi, mengecam keputusan tersebut. Ia menilai penolakan visa terhadap tim media kepresidenan merupakan tindakan yang bermusuhan dari Washington.
Di tengah pembatasan tersebut, kehadiran Pezeshkian di Sidang Majelis Umum PBB menjadi kesempatan bagi Iran untuk menyampaikan sikapnya secara langsung dalam forum internasional. Pidato Presiden Iran dijadwalkan menjadi salah satu agenda utama delegasi Teheran selama berada di New York.