JAKARTA – Fenomena kulminasi utama atau hari tanpa bayangan terjadi secara bertahap di sejumlah wilayah Pulau Jawa pada Oktober 2026. Fenomena astronomi ini membuat bayangan benda tegak terlihat sangat pendek, bahkan seolah menghilang, ketika Matahari berada tepat di atas kepala pengamat.
Berdasarkan jadwal Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), waktu kulminasi berbeda di setiap daerah karena dipengaruhi letak geografis masing-masing wilayah. Sejumlah kota besar di Jawa telah mengalami fenomena ini sejak awal Oktober.
Jadwal Kulminasi Matahari di Pulau Jawa
Berikut jadwal kulminasi utama pada sejumlah ibu kota provinsi di Pulau Jawa berdasarkan data BMKG:
- Serang: 9 Oktober 2026 pukul 11.42.44 WIB
- Jakarta Pusat: 9 Oktober 2026 pukul 11.40.02 WIB
- Bandung: 11 Oktober 2026 pukul 11.36.24 WIB
- Semarang: 11 Oktober 2026 pukul 11.25.02 WIB
- Surabaya: 12 Oktober 2026 pukul 11.15.43 WIB
- Yogyakarta: 13 Oktober 2026 pukul 11.24.51 WIB
Jadwal tersebut menunjukkan bahwa kulminasi Matahari tidak terjadi serentak di seluruh Pulau Jawa. Perbedaan waktu ini berkaitan dengan posisi geografis setiap kota terhadap Matahari.
Apa Itu Kulminasi Matahari?
BMKG menjelaskan, kulminasi utama merupakan fenomena ketika Matahari mencapai posisi tertinggi di langit dan berada tepat di atas kepala pengamat atau titik zenit. Kondisi tersebut terjadi saat deklinasi Matahari sama dengan lintang geografis pengamat.
Ketika Matahari berada di titik zenit, bayangan benda tegak dapat bertumpuk dengan benda itu sendiri sehingga terlihat seolah-olah menghilang. Fenomena ini kemudian dikenal sebagai hari tanpa bayangan.
Peristiwa tersebut berkaitan dengan gerak semu tahunan Matahari. Posisi Matahari yang terlihat dari Bumi bergeser sepanjang tahun di antara 23,5 derajat Lintang Utara dan 23,5 derajat Lintang Selatan akibat kemiringan sumbu Bumi terhadap bidang orbitnya.
Cara Mengamati Hari Tanpa Bayangan
Masyarakat dapat mengamati fenomena ini dengan menggunakan benda tegak, seperti tongkat, yang diletakkan di permukaan datar. Pengamatan dilakukan mendekati waktu kulminasi sesuai jadwal di lokasi masing-masing.
Meski disebut hari tanpa bayangan, bukan berarti semua bayangan benar-benar hilang. Hasil pengamatan dapat dipengaruhi bentuk benda, kondisi permukaan, posisi pengamat, dan keadaan langit.
Untuk memperoleh hasil pengamatan yang lebih jelas, masyarakat dapat memilih lokasi terbuka dengan permukaan rata serta memperhatikan waktu kulminasi setempat.