Para petani di Kawasan Transmigrasi Batu Betumpang, Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, kini mulai melepaskan diri dari bayang-bayang ketidakpastian harga panen. Lewat pendampingan intensif Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 1 IPB University, warga setempat berhasil mengamankan akses pasar pasti sebagai pemasok rutin sayuran segar ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pulau Besar.
Terobosan ini menjadi angin segar bagi para petani hortikultura transmigran yang selama ini kerap dirugikan oleh permainan harga pedagang perantara (tengkulak) serta minimnya kepastian pembeli.
Petani penggerak dari Desa Sumber Jaya Permai, Ayik Sofyan, mengungkapkan bahwa pendampingan dari akademisi IPB University telah mengubah secara mendasar pemahaman mereka tentang tata kelola pascapanen yang berorientasi pasar.
“Adanya komunikasi langsung dengan SPPG dan pedagang lokal memberikan harapan nyata bagi pengembangan usaha hortikultura kami. Kami belajar tidak hanya cara menanam, tetapi juga bagaimana menyajikan hasil panen yang sesuai dengan kriteria pembeli,” ujar Ayik di Demplot Trans-Organik, Minggu (25/10/2026).
Edukasi Grading dan Standar Kemasan Komersial
Kesiapan petani transmigran ini dibuktikan dalam ajang Farmer Field and Business School (FFBS) seri ke-7. Sebanyak 18 petani penggerak didampingi tim akademisi sukses memanen 107 kilogram sayuran organik berkualitas tinggi, mencakup pakcoy, selada, bayam, dan kangkung.
Ketua TEP IPB University, Dr. Suprehatin, menegaskan bahwa transformasi pola pikir (mindset) merupakan kunci utama modernisasi kawasan transmigrasi. Indikator keberhasilan bertani kini tak lagi diukur sebatas dari kapasitas volume panen, melainkan adanya jaminan penyerap (offtaker).
“Transisi pertanian tidak cukup berhenti pada bagaimana petani menghasilkan produk yang lebih baik. Kita harus memastikan produk tersebut memiliki akses pasar yang pasti dan berkelanjutan. Di sini petani dibekali teknik pemilahan (grading), pengawasan mutu, hingga pengemasan yang rapi,” jelas Suprehatin.
Skema Pasokan Terjadwal untuk Dapur Program Gizi
Kepala SPPG Pulau Besar, Ashari Ramalan, menyambut hangat komitmen pasokan bahan pangan segar dari kebun warga lokal. Guna menjaga kelancaran menu harian program pemenuhan gizi, pihaknya menerapkan skema koordinasi penyerapan terjadwal.
Para petani diminta menyetorkan rencana jadwal panen minimal satu minggu sebelum pengiriman. Pola ini diterapkan agar varietas dan kuantitas sayuran yang dikirim presisi dengan kebutuhan gizi harian anak sekolah dan penerima manfaat.
“Mekanisme koordinasi rutin ini penting agar jenis dan volume sayuran yang masuk benar-benar sesuai dengan daftar menu harian yang telah disusun tim gizi,” terang Ashari.
Integrasi antara kebun transmigran dan SPPG ini selaras dengan arahan Menteri Transmigrasi, Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara, yang konsisten mendorong pemulihan ekonomi kawasan transmigrasi berbasis ceruk pasar (niche market).
Melalui kolaborasi strategis antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan kepastian pasar lembaga pemerintah, Kawasan Transmigrasi Batu Betumpang kini resmi bertransformasi: dari sekadar wilayah pemukiman menjadi lumbung pangan organik mandiri yang menopang ketahanan gizi daerah.