JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mengakhiri perdagangan Senin (2/11/2026), dengan kenaikan 39,78 poin atau 0,79 persen ke posisi 5.096,83.
Penguatan ini menjadi sinyal positif bagi pasar saham domestik setelah indeks sempat bergerak di bawah level psikologis 5.000 sepanjang perdagangan.
Mengacu data RTI Business, IHSG memulai perdagangan pada level 5.039,53 sebelum mengalami pergerakan naik turun sepanjang sesi.
Dalam perjalanannya, indeks sempat merosot hingga 4.981,51, kemudian berbalik arah dan mencapai posisi tertinggi 5.125,73.
Aktivitas perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatatkan nilai transaksi sebesar Rp11,438 triliun dengan volume mencapai 33,320 miliar saham.
Frekuensi transaksi tercatat sebanyak 1.441.092 kali selama perdagangan berlangsung.
Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, sebanyak 315 emiten berhasil menguat, sedangkan 285 saham terkoreksi dan 118 lainnya tidak mengalami perubahan harga.
Sentimen Global Topang Penguatan IHSG
Analis Pilarmas Investindo Sekuritas menilai kenaikan IHSG sejalan dengan tren positif sejumlah bursa saham di kawasan Asia.
Salah satu faktor yang menopang optimisme investor adalah penurunan harga minyak dunia di tengah perkembangan diplomasi untuk meredakan ketegangan Amerika Serikat dan Iran.
“Harga minyak turun di tengah tanda-tanda upaya diplomatik yang berkelanjutan untuk mencegah aksi militer AS yang diperbarui terhadap Iran.”
“Langkah ini berjalan beriringan dengan proses negosiasi yang tengah dilakukan oleh utusan Iran dan Qatar,” kata Pilarmas Investindo Sekuritas dalam analisisnya, Senin.
Turunnya harga minyak dinilai dapat mengurangi kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global sekaligus memperkecil potensi kenaikan suku bunga.
Meski demikian, investor masih mengamati perkembangan ekonomi Amerika Serikat, terutama laporan ketenagakerjaan Oktober serta data aktivitas manufaktur dan jasa ISM.
PMI Manufaktur Indonesia Naik Jadi 54,0
Dari sisi domestik, perbaikan aktivitas industri manufaktur menjadi salah satu pendorong optimisme pelaku pasar.
Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Oktober 2026 meningkat menjadi 54,0, dibandingkan posisi 52,4 pada bulan sebelumnya.
Kenaikan tersebut mencerminkan aktivitas manufaktur yang semakin ekspansif, didorong meningkatnya permintaan produk dalam negeri.
“Tumbuhnya aktivitas tersebut didukung dari lonjakan permintaan produk dalam negeri, berhasil memicu kebangkitan volume produksi dan pesanan baru.”
“Sektor ini kembali mencatatkan pertumbuhan positif setelah sebelumnya sempat berada dalam tren penurunan,” tulis Pilarmas.
Inflasi Oktober Melandai
Indikator ekonomi lainnya yang memberikan sentimen positif adalah perkembangan inflasi nasional yang menunjukkan perlambatan.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi Oktober 2026 sebesar 0,22 persen secara bulanan atau lebih rendah dibandingkan September yang mencapai 0,30 persen.
Sementara itu, inflasi tahunan juga turun menjadi 3,23 persen dari sebelumnya 3,28 persen.
Menurut Pilarmas, perkembangan tersebut menunjukkan tekanan harga masih berada dalam rentang sasaran inflasi Bank Indonesia.
Sebagai informasi, sasaran inflasi yang ditetapkan Bank Indonesia berada pada kisaran 2,5 persen dengan toleransi plus minus satu persen.
Neraca Perdagangan Indonesia Surplus US$3,36 Miliar
Kinerja perdagangan internasional turut memberikan dukungan terhadap persepsi positif investor mengenai kondisi perekonomian Indonesia.
BPS mencatat neraca perdagangan Indonesia pada September 2026 membukukan surplus sebesar US$3,36 miliar.
Surplus tersebut berasal dari ekspor senilai US$27,59 miliar, lebih tinggi dibandingkan impor yang tercatat sebesar US$24,23 miliar.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa kinerja perdagangan luar negeri masih memberikan kontribusi positif terhadap ketahanan ekonomi nasional.
BEI Terapkan Penyesuaian Perhitungan IHSG
Di tengah penguatan pasar, pelaku investasi juga mencermati kebijakan BEI yang mulai mengeluarkan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC) dari perhitungan IHSG pada 2 November 2026.
Kebijakan tersebut menjadi bagian dari penyesuaian metodologi penghitungan indeks yang berpotensi memengaruhi bobot sejumlah saham dalam IHSG.
Namun, Pilarmas Investindo Sekuritas memperkirakan perubahan tersebut tidak akan menimbulkan gejolak pasar secara ekstrem.
“Direktur Utama BEI menegaskan bahwa penyesuaian ini diproyeksikan tidak akan mengguncang pasar secara ekstrem. Baik berupa kejatuhan maupun lonjakan tajam,” kata mereka.
Hal itu karena bobot saham yang dikeluarkan dari perhitungan indeks akan didistribusikan kembali secara proporsional kepada emiten lain yang masih menjadi konstituen IHSG.
“Bobot dari saham-saham HSC yang dikeluarkan bakal langsung dialokasikan secara proporsional ke emiten-emiten lain yang berada di dalam IHSG.”
Dengan berbagai sentimen tersebut, perkembangan ekonomi domestik, pergerakan bursa global, serta implementasi kebijakan BEI menjadi sejumlah faktor yang akan terus diperhatikan investor dalam mencermati arah IHSG.***