JAKARTA – Stabilitas harga barang dan jasa di Indonesia tetap terjaga pada Oktober 2026, dengan laju inflasi tahunan yang menunjukkan penurunan dibandingkan bulan sebelumnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Oktober 2026 mengalami inflasi 0,22% secara bulanan (month to month/mtm).
Dengan perkembangan tersebut, inflasi tahunan Indonesia tercatat sebesar 3,23% (year on year/yoy), turun dari 3,28% pada September 2026.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI), Ramdan Denny Prakoso, menyampaikan perkembangan tersebut melalui keterangan tertulis pada Senin (2/11/2026).
“Inflasi yang tetap terjaga dalam kisaran sasarannya ini merupakan hasil dari konsistensi kebijakan moneter serta eratnya sinergi pengendalian inflasi antara Bank Indonesia dan Pemerintah (Pusat dan Daerah) dalam Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID) serta penguatan implementasi Program Ketahanan Pangan Nasional,” terang Ramdan.
BI menilai koordinasi kebijakan moneter dan pengendalian harga bersama pemerintah menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas inflasi nasional.
Bank sentral juga memperkirakan inflasi Indonesia tetap berada dalam rentang sasaran 2,5±1% sepanjang 2026 hingga 2027.
Inflasi Inti Turun Secara Tahunan
Komponen inflasi inti masih menunjukkan perkembangan yang relatif stabil meskipun terdapat tekanan dari faktor eksternal.
Pada Oktober 2026, inflasi inti tercatat 0,12% secara bulanan, sedikit meningkat dibandingkan September yang mencapai 0,10%.
“Perkembangan inflasi inti tersebut dipengaruhi oleh tekanan eksternal yang berlanjut, di tengah ekspektasi inflasi yang tetap terjaga dalam kisaran sasaran.”
Sementara itu, secara tahunan inflasi inti justru mengalami penurunan menjadi 2,56% dari sebelumnya 2,84% pada September 2026.
Perkembangan tersebut menunjukkan tekanan harga pada komponen inti masih relatif terkendali di tengah dinamika perekonomian global.
Harga Cabai Dorong Inflasi Pangan
Berbeda dengan inflasi inti, kelompok harga pangan bergejolak atau volatile food masih menjadi salah satu komponen yang perlu mendapat perhatian.
Kelompok ini mencatat inflasi 0,77% secara bulanan pada Oktober 2026, melambat cukup signifikan dibandingkan September yang mencapai 1,46%.
Kenaikan harga terutama berasal dari komoditas cabai merah dan cabai rawit akibat berkurangnya produksi di sejumlah daerah sentra pertanian.
Meski tekanan bulanan mereda, inflasi pangan secara tahunan justru meningkat menjadi 5,81% dari 5,03% pada bulan sebelumnya.
Untuk mengantisipasi kenaikan harga pangan, BI bersama pemerintah memperkuat koordinasi pengendalian pasokan dan distribusi melalui TPIP dan TPID.
“Ke depan, Bank Indonesia terus memperkuat sinergi dengan Pemerintah melalui TPIP dan TPID dalam implementasi Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS), guna mengendalikan inflasi pangan termasuk antisipasi dampak gangguan cuaca ekstrim (El Nino) terhadap pasokan dan harga bahan pangan,” lanjut Ramdan.
Antisipasi terhadap potensi El Nino menjadi perhatian penting karena gangguan cuaca ekstrem dapat memengaruhi produksi pertanian, ketersediaan komoditas, hingga stabilitas harga kebutuhan pokok.
Tarif Pesawat Ikut Menyumbang Inflasi
Komponen harga yang diatur pemerintah atau administered prices juga mengalami kenaikan selama Oktober 2026.
Kelompok tersebut mencatat inflasi bulanan sebesar 0,09%, setelah tidak mengalami perubahan atau 0,00% pada September 2026.
Salah satu penyumbang utamanya adalah kenaikan tarif angkutan udara yang berkaitan dengan penerapan fuel surcharge sebesar 40% untuk penerbangan domestik kelas ekonomi.
Namun, secara tahunan inflasi kelompok administered prices justru sedikit melandai menjadi 3,24% dibandingkan 3,25% pada September 2026.
“Secara tahunan, kelompok administered prices tercatat inflasi sebesar 3,24% (yoy), sedikit lebih rendah dibandingkan inflasi bulan sebelumnya sebesar 3,25% (yoy),” pungkas Ramdan.
BI Optimistis Inflasi Tetap Terkendali
Secara keseluruhan, inflasi Indonesia pada Oktober 2026 masih berada dalam rentang sasaran Bank Indonesia sebesar 2,5±1%.
Meski demikian, perkembangan harga pangan dan potensi gangguan cuaca akibat El Nino tetap menjadi tantangan yang perlu diantisipasi.
Penguatan koordinasi pemerintah pusat dan daerah, stabilitas pasokan pangan, serta konsistensi kebijakan moneter akan menjadi faktor penting untuk menjaga daya beli masyarakat.
BI pun tetap optimistis inflasi nasional dapat terkendali sesuai sasaran sepanjang 2026 dan 2027.
***
