JAKARTA – Khalil Al Hayya, anggota biro politik Hamas, pada Rabu (15/1) menyampaikan apresiasinya atas dukungan berbagai negara, termasuk Indonesia, terhadap Palestina.
Dukungan itu mencakup upaya mediasi untuk tercapainya gencatan senjata antara Hamas dan Israel, yang baru-baru ini disepakati di Qatar.
Gencatan senjata tersebut dijadwalkan mulai berlaku pada Minggu mendatang, setelah negosiasi intensif di Doha.
“Sikap terhormat dari semua negara yang membantu Palestina di berbagai bidang, khusus saudara-saudara kami di Turki, Afrika Selatan, Aljazair, Rusia, China, Malaysia, dan Indonesia,” puji Al Hayya dalam konferensi pers.
Ia juga mengungkapkan rasa bangganya kepada rakyat Palestina, khususnya di Gaza, yang menurutnya tetap teguh melawan agresi Israel.
“Rakyat kami tetap teguh di tanah mereka, tidak melarikan diri atau bermigrasi, dan menjadi pelindung bagi perlawanan mereka,” ujarnya.
Al Hayya menyoroti kehancuran besar yang dialami Gaza akibat agresi Israel. Ia menegaskan, meski dirundung kerusakan besar, Palestina berkomitmen untuk membangun kembali Gaza. Menurutnya, Israel hanya mendapatkan kehancuran sebagai hasil dari tindakannya.
“Israel hanya mendapatkan kembali tawanan… melalui kesepakatan pertukaran tawanan yang terhormat,” tambahnya.
Ia juga mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang mendukung perjuangan Palestina, termasuk kelompok Houthi di Yaman, Hizbullah di Lebanon, Iran, serta peran penting Qatar dan Mesir dalam proses mediasi gencatan senjata.
Kesepakatan gencatan senjata antara Hamas dan Israel diumumkan oleh Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani. Fase pertama kesepakatan itu akan berlangsung selama 42 hari dan mencakup pembebasan 33 warga Israel yang disandera oleh Hamas serta sejumlah warga Palestina dari penjara Israel.
Pengumuman gencatan senjata itu datang pada hari ke-467 konflik di Gaza. Menurut laporan, agresi Israel telah menyebabkan lebih dari 156.000 warga Palestina tewas atau terluka, termasuk banyak perempuan dan anak-anak, serta lebih dari 11.000 orang dinyatakan hilang.
Konflik ini dianggap sebagai salah satu bencana kemanusiaan terburuk, dengan krisis yang sangat memengaruhi lansia dan anak-anak.