JAKARTA – Rencana rahasia militer Amerika Serikat (AS) untuk menyerang Yaman bocor ke tangan yang tidak semestinya.
Pemimpin Redaksi The Atlantic Jeffrey Goldberg, secara mengejutkan mendapat informasi serangan tersebut hanya 2 jam sebelum bom pertama dijatuhkan pada 15 Maret 2025.
Goldberg Masuk Grup Signal Rahasia Pejabat Tinggi AS
Dalam artikelnya yang terbit Senin (24/3/2025), Goldberg mengungkap bahwa ia ditarik masuk ke grup obrolan Signal berisi pejabat kunci pemerintahan Trump, termasuk Menteri Pertahanan Pete Hegseth, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, dan Wakil Presiden JD Vance.
“Saya tahu 2 jam sebelum bom pertama meledak, serangan itu mungkin akan datang. Alasan saya mengetahui hal ini adalah karena Pete Hegseth telah mengirimi saya rencana perang melalui pesan pada pukul 11.44,” tulis Goldberg.
Awalnya, Goldberg mengira pesan undangan grup dari akun bernama “Michael Waltz” adalah palsu. Namun, ia terkejut ketika menyadari bahwa grup tersebut berisi 18 pejabat tinggi AS yang sedang mendiskusikan operasi militer rahasia.
Gedung Putih Konfirmasi Kebocoran, Trump Bela Diri
Goldberg segera melaporkan kebocoran ini ke Gedung Putih dan keluar dari grup.
Dewan Keamanan Nasional AS mengonfirmasi insiden tersebut, menyatakan bahwa mereka sedang menyelidiki bagaimana nomor Goldberg bisa masuk ke grup rahasia.
“Saat ini, rangkaian pesan yang dilaporkan tampaknya asli dan kami sedang mengevaluasi bagaimana bisa ada nomor secara tidak sengaja dimasukkan dalam grup tersebut,” ujar Juru Bicara Dewan Keamanan Nasional, Brian Hughes.
Sementara itu, Donald Trump membantah mengetahui kebocoran ini. Saat diwawancarai, ia justru menyerang The Atlantic dan menuduh ada upaya mengganggu operasi militer AS.
“Saya tidak tahu apa-apa tentang itu. Saya bukan penggemar berat The Atlantic. Bagi saya, itu majalah yang akan gulung tikar,” kata Trump.
“Itu tidak mungkin efektif (upaya mengganggu) karena serangan itu sangat efektif,” tambahnya.
Demokrat Desak Investigasi, Sebut Pelanggaran Keamanan Serius
Para politisi Partai Demokrat mengecam keras kebocoran ini. Senator Chris Coons mendesak Kongres untuk menggelar sidang darurat.
“Laporan Jeffrey Goldberg di The Atlantic menyerukan penyelidikan yang cepat dan menyeluruh. Penasihat Trump menggunakan aplikasi tidak aman untuk membahas rencana perang—ini membahayakan nyawa tentara AS,” tegas Coons.
Kebocoran ini memunculkan pertanyaan serius tentang protokol keamanan informasi Gedung Putih Penggunaan aplikasi Signal —meskipun dianggap lebih aman—tetap berisiko jika melibatkan pihak luar.
Serangan AS ke Yaman sendiri masih berlangsung sejak 15 Maret, menargetkan kelompok Houthi. Namun, kebocoran ini bisa mengubah dinamika operasi dan memicu kritik lebih luas terhadap pemerintahan Trump.