JAKARTA – Gedung Putih mendesak Iran untuk secara terbuka menyatakan bahwa Selat Hormuz kembali dibuka dan berkomitmen menghentikan serangan terhadap kapal komersial.
Laporan Axios pada Jumat (10/7/2026) menyebut, Washington menantikan pernyataan resmi dari Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi usai pertemuan dengan pejabat Oman di Muscat.
Seorang pejabat AS mengatakan, “AS ingin Iran secara eksplisit, atau setidaknya secara implisit, mengakui bahwa mereka telah melakukan kesalahan.” Jika Teheran menolak, Washington memperingatkan akan ada “konsekuensi berat.”
Ketegangan meningkat setelah serangan balasan antara pasukan AS dan Iran di kawasan Teluk. Komando Pusat AS mengklaim serangan udara dilakukan sebagai respons atas tindakan Iran terhadap kapal dagang di Selat Hormuz. Iran kemudian melaporkan serangan balasan ke pangkalan AS di Bahrain dan Kuwait, serta menuduh Washington melanggar memorandum penghentian permusuhan.
Presiden AS. Donald Trump menegaskan gencatan senjata dengan Iran tidak lagi berlaku. Serangan udara lanjutan pun dilancarkan pada Rabu malam.
Sementara itu, Reuters melaporkan bahwa kesepakatan nuklir baru akan mewajibkan Iran menyerahkan persediaan uranium yang sangat diperkaya. Jika tidak, AS disebut memiliki opsi militer untuk memastikan persediaan tersebut tetap terkubur di bawah tanah.