JAKARTA – Pasokan minyak dunia mengalami lonjakan terbesar dalam beberapa bulan terakhir sepanjang Juni 2026 setelah aktivitas pengiriman melalui Selat Hormuz mulai kembali berjalan.
Laporan terbaru Badan Energi Internasional (IEA) menyebut pemulihan jalur pelayaran tersebut mendorong peningkatan produksi minyak di kawasan Teluk.
Meski demikian, volume produksi global belum sepenuhnya kembali ke posisi sebelum konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
IEA mencatat produksi minyak dunia masih berada sekitar 9,4 juta barel per hari di bawah level sebelum pecahnya konflik tersebut.
Situasi keamanan di sekitar Selat Hormuz dinilai masih menjadi hambatan utama bagi pemulihan produksi secara penuh.
Selama Juni, produsen minyak di kawasan Teluk berhasil menambah pasokan sekitar 3,5 juta barel per hari.
Peningkatan itu terjadi setelah tercapainya kesepakatan kerangka kerja antara Amerika Serikat dan Iran yang membuka ruang bagi pemulihan distribusi minyak.
Namun, gangguan pelayaran masih muncul secara berkala akibat ancaman keamanan di jalur strategis tersebut.
Kelancaran distribusi minyak juga masih bergantung pada pengawalan armada Angkatan Laut Amerika Serikat.
Akibat kondisi tersebut, produksi minyak regional tetap sekitar 11,4 juta barel per hari di bawah tingkat sebelum perang.
IEA melaporkan produksi negara-negara OPEC+ meningkat sekitar 2,45 juta barel per hari menjadi 38,39 juta barel per hari selama Juni.
Arab Saudi menjadi penyumbang terbesar dengan tambahan sekitar 900.000 barel per hari.
Kuwait turut meningkatkan produksi sekitar 630.000 barel per hari sepanjang periode yang sama.
Sementara itu, negara-negara di luar OPEC+ menambah produksi sekitar 1,63 juta barel per hari hingga mencapai 60,37 juta barel per hari.
Uni Emirat Arab menjadi kontributor terbesar di kelompok non-OPEC+ dengan tambahan sekitar 940.000 barel per hari.
Melihat tren tersebut, IEA merevisi proyeksi pasokan minyak global sepanjang 2026 menjadi rata-rata 102,6 juta barel per hari.
Meski prospeknya membaik, lembaga itu menilai pasar energi internasional masih menghadapi risiko besar dari perkembangan geopolitik.
Ketidakpastian mengenai tata kelola Selat Hormuz dan ancaman serangan di kawasan menjadi perhatian utama pelaku pasar.
IEA menilai faktor-faktor tersebut masih berpotensi memicu gangguan terhadap rantai pasok energi dunia.
Untuk jangka panjang, IEA memperkirakan produksi minyak global dapat pulih sekitar 7,5 juta barel per hari hingga mencapai 110,1 juta barel pada 2027.***