JAKARTA – Konflik Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah Washington melancarkan serangan pada Minggu (12/7/2026) dini hari.
Serangan itu dilakukan sebagai respons atas aksi Iran terhadap sebuah kapal kontainer di Selat Hormuz.
Mengutip laporan AP, Minggu pagi, Kapal berbendera Siprus itu terbakar hebat setelah dihantam serangan hingga seluruh awak terpaksa meninggalkan kapal.
Komando Pusat Amerika Serikat menyebut ruang mesin kapal mengalami kerusakan berat.
Seorang awak sipil dilaporkan masih hilang setelah insiden tersebut.
Iran kemudian melancarkan serangan balasan yang menyasar Bahrain, Qatar, dan Uni Emirat Arab.
Ledakan terdengar di wilayah Qatar ketika sistem peringatan rudal diaktifkan.
Militer Qatar mengklaim seluruh rudal yang mengarah ke negaranya berhasil dicegat.
Bahrain juga mengaktifkan peringatan rudal di tengah meningkatnya ancaman.
Uni Emirat Arab memperingatkan masyarakat mengenai potensi serangan rudal dan drone.
Hingga kini belum dipastikan lokasi mana di UEA yang menjadi sasaran serangan.
Selat Hormuz kembali menjadi titik paling sensitif dalam konflik kedua negara.
Jalur laut itu sebelumnya dilintasi sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas dunia.
Gangguan di kawasan tersebut sempat memicu krisis energi global.
Harga minyak yang pernah menyentuh 120 dolar AS per barel kini telah turun.
Dengan kurs sekitar Rp16.300 per dolar AS, harga itu setara sekitar Rp1,96 juta per barel.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya menyatakan kesepakatan sementara terkait perang Iran telah berakhir.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyampaikan pesan keras kepada Teheran.
“Iran membuat pilihan yang buruk, sekarang mereka harus menanggung akibatnya,” tulis Pete Hegseth.
Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris menyebut kapal berlayar dekat pantai Oman.
Rute tersebut dipilih untuk menghindari perairan teritorial Iran.
Awak kapal meninggalkan kapal setelah api membesar dan situasi tidak terkendali.
Korps Garda Revolusi Iran menyatakan beberapa kapal mengabaikan peringatan mereka.
Iran mengklaim salah satu kapal dihentikan melalui tembakan peringatan.
Pemerintah Iran kembali menegaskan Selat Hormuz ditutup hingga pemberitahuan berikutnya.
Teheran juga mengancam akan menyerang lebih banyak pangkalan musuh bila kembali diserang.
Media pemerintah Iran menyebut serangan Amerika menghantam Bandar Abbas, Sirik, dan sejumlah wilayah pesisir.
Belum ada laporan resmi mengenai jumlah korban maupun tingkat kerusakan.
Eskalasi terbaru terjadi setelah Iran dan Oman menggelar pembicaraan mengenai Selat Hormuz.
Oman menyatakan dialog teknis dan politik mengenai jalur strategis itu akan terus berlanjut.
Iran belum memberikan jaminan bahwa Selat Hormuz akan kembali dibuka untuk pelayaran internasional.
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei juga menyampaikan pernyataan pertamanya sejak pemakaman ayahnya.
Ia menegaskan Iran akan membalas kematian Ayatollah Ali Khamenei dalam perang yang dimulai pada 28 Februari.
“Balas dendam itu adalah kehendak bangsa kami dan pasti akan dilaksanakan,” tegas Ayatollah Mojtaba Khamenei.***