JAKARTA – Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menegaskan bahwa pembalasan atas pembunuhan ayahnya dalam serangan AS-Israel adalah hal yang “tak terhindarkan.”
Dalam pesan tertulis bertanggal 10 Juli dan dirilis sehari setelah pemakaman ayahnya, ia menekankan bahwa keputusan itu merupakan kehendak bangsa Iran. “Masalah ini tidak bergantung pada keberadaan pribadi saya maupun pejabat lainnya. Baik kita hadir atau tidak, hal itu akan tetap terjadi,” tulisnya, dilansir Hurriyet Dailyy News, Sabtu (11/7/2026).
Pernyataan tersebut muncul di tengah upaya mediator internasional, termasuk Qatar dan Pakistan, untuk menyelamatkan diplomasi yang rapuh antara Washington dan Teheran. Ketegangan meningkat setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan gencatan senjata berakhir dan mengancam akan “menghancurkan sepenuhnya” Iran jika negara itu mencoba membunuhnya.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi tiba di Oman untuk membahas Selat Hormuz, jalur vital ekspor energi dunia yang ditutup Iran selama perang. Ia menegaskan Teheran telah menepati komitmen dalam nota kesepahaman (MoU) dengan AS, sementara Washington dituding melanggar Pasal 9 dengan mencabut pengecualian sanksi minyak.
Serangan udara besar-besaran AS pekan ini menghantam sekitar 90 target di Iran, menewaskan 17 orang dan melukai 115 lainnya. Iran membalas dengan menyerang aset Amerika di negara-negara Teluk. Meski Qatar dan Pakistan berusaha mengembalikan diplomasi ke jalur damai, kepala negosiator Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan bahwa konfrontasi tidak akan berakhir dengan penyerahan diri Iran. “Warga Iran sepenuhnya siap untuk membela diri,” ujarnya.