Aktivitas tektonik di belahan bumi selatan kembali bergejolak. Gempa bumi berkekuatan cukup besar mengguncang kawasan Kepulauan Sandwich Selatan yang berada di wilayah luar negeri dekat Venezuela dan Kepulauan Falkland pada Sabtu (11/7/2026) sore waktu setempat.
Berdasarkan rilis data awal dari Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), gempa tersebut tercatat memiliki magnitudo (M) 6,4 dengan pusat gempa berada di kedalaman yang sangat dangkal, yaitu hanya 10 kilometer di bawah permukaan laut.
“Informasi awal menunjukkan terjadi gempa bumi yang cukup signifikan dengan kekuatan M 6,4 di wilayah Kepulauan Sandwich Selatan,” tulis laporan resmi USGS melalui akun media sosial X mereka.
Hasil Analisis Lanjutan BMKG
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Indonesia turut memantau pergerakan tektonik ini. Melalui analisis parameter lanjutan, BMKG memutakhirkan kekuatan gempa tersebut pada magnitudo M 6,2 dengan kedalaman pusat gempa yang konsisten di angka 10 kilometer.
Secara geografis, episenter gempa bumi ini terletak pada koordinat posisi 55,82 derajat Lintang Selatan (LS) serta 29,02 derajat Bujur Barat (BB). Titik ini tepatnya berada di wilayah perairan laut berjarak sekitar 1.934 kilometer di sebelah timur Stanley, Kepulauan Falkland.
Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, memaparkan bahwa posisi episenter dan hiposenter yang sangat dangkal ini mengindikasikan asal mula terjadinya patahan batu di dalam bumi.
“Dengan melihat lokasi pusat dan kedalaman sumbernya, gempa yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal. Guncangan ini dipicu langsung oleh aktivitas subduksi atau penujaman antara Lempeng Amerika Selatan terhadap Lempeng Sandwich,” urai Wijayanto dalam keterangan tertulisnya.
Mekanisme Patahan dan Dampak Ke Indonesia
Lebih mendalam, BMKG memaparkan bahwa berdasarkan hasil pemodelan analisis mekanisme sumber, struktur patahan yang terjadi di zona subduksi tersebut menunjukkan adanya pergerakan kombinasi antara geser dan turun (oblique normal fault).
Mengingat lokasi pusat gempa yang berada sangat jauh di perairan samudra bagian selatan, BMKG segera meredam kekhawatiran masyarakat domestik. Wijayanto menegaskan bahwa hasil pemodelan matematis memastikan rambatan gelombang gempa ini sama sekali tidak berpotensi memicu gelombang tsunami di seluruh wilayah pesisir Indonesia.