JAKARTA – Amerika Serikat melancarkan serangan udara besar-besaran ke Iran pada pagi hari, Minggu (12/7/2026), setelah kapal kontainer berbendera Siprus terbakar akibat serangan Iran di Selat Hormuz. Awak kapal terpaksa meninggalkan kapal yang rusak parah di ruang mesin.
Komando Pusat AS menyebutkan sekitar 140 target dihantam, termasuk lokasi peluncuran rudal dan drone, gudang amunisi, serta fasilitas komunikasi. “Serangan-serangan tersebut melemahkan kemampuan Iran untuk menyerang pelaut sipil dan kapal komersial yang bebas melintasi selat,” demikian pernyataan resmi, dilansir Hurriyet Daily News.
Iran merespons dengan serangan ke Bahrain, Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Oman. Militer Qatar melaporkan berhasil mencegat tembakan dari Iran, namun pecahan peluru melukai tiga orang, termasuk seorang anak. Sirene peringatan rudal juga berbunyi di Bahrain dan Kuwait, sementara Oman melaporkan serangan drone di wilayah timur laut.
Ketegangan meningkat setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan kesepakatan sementara dengan Iran telah “berakhir.” Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menulis, “Iran membuat pilihan yang buruk. Sekarang mereka menanggung akibatnya.”
Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, menegaskan, “Era kesepakatan sepihak SUDAH BERAKHIR. Kami sudah bilang: tepati janji atau bayar harganya.”
Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Ayatollah Mojtaba Khamenei, juga bersumpah akan membalas kematian ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan pembuka perang pada 28 Februari. “Pembalasan adalah kehendak bangsa kita dan tentu harus dilaksanakan,” ujarnya.
Serangan terbaru ini memperburuk krisis energi global akibat penutupan Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dan gas dunia. Harga minyak sempat melonjak hingga 120 dolar AS per barel, sebelum turun tajam beberapa pekan terakhir.