JAKARTA – Pemimpin dua gereja terbesar di Armagh mengecam keras pemasangan replika masjid di atas sebuah api unggun di Irlandia Utara.
Mereka menilai aksi tersebut sangat menghina umat Islam dan berpotensi memperburuk ketegangan yang masih terasa di wilayah itu.
Mengutip laporan Vatican News, Sabtu (11/7/2026), pernyataan bersama disampaikan Uskup Agung Katolik Eamon Martin dan Uskup Agung Gereja Irlandia John McDowell.
Keduanya menegaskan tindakan tersebut bertentangan dengan nilai kemanusiaan, ajaran Kristiani, dan prinsip demokrasi modern.
Menurut mereka, insiden itu terjadi saat masyarakat masih menghadapi dampak kerusuhan yang merusak fasilitas umum dan permukiman.
Kondisi tersebut membuat aksi provokatif dinilai berisiko memperbesar konflik antarkelompok di Irlandia Utara.
Kedua pemimpin gereja mengingatkan kisah Orang Samaria yang Baik Hati sebagai teladan menghargai sesama.
Mereka menegaskan Yesus mengajarkan umat-Nya untuk menghormati, merawat, dan mengasihi siapa pun tanpa membedakan agama maupun budaya.
Mereka menyatakan, “Yesus mengajarkan para pengikut-Nya bukan sekadar menoleransi mereka yang berbeda agama atau budaya, tetapi menghormati, merawat, dan mengasihi mereka sebagai sesama.”
Pernyataan itu menjadi dasar seruan agar masyarakat membangun hubungan yang saling menghargai di tengah keberagaman.
Para uskup juga mengecam penggunaan simbol kasar dan ancaman kekerasan yang ditujukan kepada komunitas Muslim.
Mereka menilai tindakan tersebut bertolak belakang dengan ajaran Injil yang menekankan kasih, penghormatan, dan belas kasih.
Selain itu, aksi tersebut disebut melanggar hak dasar setiap orang untuk menjalankan keyakinannya secara bebas.
Kedua tokoh gereja menilai penghinaan terhadap simbol agama apa pun tidak dapat dibenarkan.
Mereka mengatakan umat Kristiani tentu akan sangat terpukul jika simbol-simbol suci Kristen dihancurkan secara sengaja.
Karena itu, mereka menegaskan penghinaan terhadap simbol agama lain juga harus ditolak dengan sikap yang sama.
Mereka menyatakan, “Umat Kristiani akan sangat terkejut melihat penghancuran simbol-simbol Kristen secara sengaja.”
Menurut mereka, rasa hormat terhadap keyakinan orang lain merupakan fondasi penting bagi kehidupan bersama.
Uskup Martin dan McDowell mengajak seluruh umat Kristiani serta masyarakat untuk memilih kata dan tindakan yang menghadirkan perdamaian.
Mereka mengingatkan setiap manusia diciptakan menurut gambar Allah sehingga layak diperlakukan dengan martabat dan kasih.
Di akhir pernyataannya, kedua pemimpin gereja menyampaikan dukungan kepada komunitas Muslim di Irlandia Utara.
Mereka menegaskan mayoritas masyarakat tetap menjunjung sikap saling menghormati dan hidup berdampingan secara damai.
Kasus tersebut kembali memunculkan perhatian terhadap pentingnya menjaga toleransi dan kebebasan beragama di tengah masyarakat majemuk.
Seperti diketahui, sebuah replika masjid dibakar di atas api unggun di sebuah kota yang didominasi kelompok pro-Inggris dekat Belfast, Irlandia Utara pada Kamis (9/7/2026) malam waktu setempat.***