Sachsenring telah lama dikenal sebagai “kerajaan” bagi Marc Marquez. Dengan rekor sembilan kemenangan di kelas utama MotoGP, ia selalu datang ke Jerman sebagai favorit juara. Namun, di MotoGP Jerman 2026 ini, sang juara bertahan justru tampil dengan sikap yang lebih membumi.
Meski berhasil menjadi yang tercepat di sesi latihan hari Jumat dengan selisih 0,166 detik menggunakan motor Ducati pabrikan, Marquez secara terbuka mengakui bahwa ia bukanlah pembalap tercepat dalam simulasi race pace (kecepatan balapan). Baginya, jika ia harus “kalah” di Sachsenring, finis di posisi kedua atau ketiga bukanlah sebuah bencana.
“Kita sudah menjalani simulasi pace sesuai cara kita. Hal positifnya adalah ketika saya memacu motor, catatan waktunya langsung muncul. Namun, saya masih perlu memperbaiki beberapa hal agar kecepatannya lebih konsisten,” ungkap Marquez.
“Tekanan Itu Ada pada Lawan”
Marquez menyadari bahwa ekspektasi publik di Sachsenring sangat tinggi. Publik seolah menganggap kemenangan adalah harga mati baginya.
“Sepertinya di Sachsenring, kalau saya menang, itu dianggap hal yang normal. Tapi jika saya kalah—yang bagi saya berarti finis kedua atau ketiga, dan itu masih hasil yang bagus—maka itu akan dianggap sebagai berita besar,” ujarnya dengan nada tenang.
Pembalap asal Spanyol ini menegaskan bahwa untuk saat ini, ia belum menjadi yang tercepat dalam hal durasi balapan. “Untuk single lap, ya, saya cepat. Tapi untuk race pace, ada beberapa detail yang harus saya tingkatkan sebelum balapan nanti,” tambahnya.
Pelajaran Berharga dari Tikungan 3
Hari Jumat bagi Marquez tidak berjalan mulus sejak awal. Baru memasuki lap ketiga di sesi FP1, ia mengalami kecelakaan di Tikungan 3. Ternyata, Marquez bukan satu-satunya pembalap yang “tumbang” di sana. Ada gundukan (bump) baru di titik apex tikungan tersebut yang membuat aspal sedikit bergeser dan mengubah karakter lintasan.
Marquez dengan jujur mengakui kesalahannya. Ia merasa tidak cukup jeli menganalisis kecelakaan yang dialami pembalap Moto2 sebelum sesinya dimulai.
“Tikungan 3 memiliki gundukan baru, dan sayangnya sayalah orang yang menemukannya pertama kali,” canda Marquez.
“Itu adalah kesalahan saya karena tidak menganalisis kecelakaan di kelas Moto2 dengan baik. Pembalap Moto2 sudah jatuh dua atau tiga kali di sana, dan saya hanya berpikir, ‘Oke, mereka jatuh karena suatu alasan’. Padahal itu gundukan yang sangat besar sampai aspalnya sedikit terangkat. Anda tidak bisa menggunakan racing line yang biasa. Anda harus mengambil jalur yang sedikit lebih lebar,” tutupnya.
Kini, semua mata tertuju pada bagaimana Marquez akan beradaptasi di sesi kualifikasi dan balapan utama nanti. Akankah ia kembali mendominasi, ataukah strategi “finis di podium sudah cukup” akan menjadi kenyataan di akhir pekan ini?