JAKARTA — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mulai menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mengantisipasi penyebaran abu vulkanik akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK). Operasi tersebut diarahkan untuk mengurangi risiko abu vulkanik terhadap jalur penerbangan dan aktivitas masyarakat.
Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG Budi Harsoyo mengatakan OMC dilaksanakan melalui dua posko, yakni Lanumad Ahmad Yani di Semarang dan Bandara Pondok Cabe, Tangerang Selatan. Namun, hingga Selasa (8/9/2026), baru posko Semarang yang telah menjalankan operasi penerbangan.
“Mulai kemarin, BMKG dan BNPB memulai OMC untuk mengatasi debu vulkanik letusan GAK dari dua lokasi posko, Lanumad Ahmad Yani Semarang dan Bandara Pondok Cabe Tangsel,” kata Budi, Selasa (8/9/2026).
Menurut dia, armada dari Pondok Cabe masih berada dalam posisi siaga karena status Notice to Airmen (NOTAM) di bandara tersebut masih dinyatakan tutup. Kondisi itu membuat penerbangan untuk kegiatan modifikasi cuaca dari lokasi tersebut belum dapat dilakukan.
Meski demikian, hasil pemeriksaan terbaru menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Berdasarkan paper test yang dilakukan, keberadaan abu vulkanik di sekitar Bandara Pondok Cabe, Bandara Internasional Soekarno-Hatta, dan Bandara Halim Perdanakusuma telah menunjukkan hasil negatif.
Budi menjelaskan, armada OMC dari Pondok Cabe akan segera dikerahkan setelah otoritas terkait memberikan izin penggunaan ruang udara. Operasi tersebut nantinya akan diarahkan untuk melakukan intervensi cuaca di wilayah Banten dan kawasan Jabodetabek.
Saat ini, wilayah Jawa Barat bagian barat dan Jabodetabek menjadi sasaran utama penyemaian awan. Penentuan lokasi penyemaian dilakukan berdasarkan hasil pemantauan terhadap pola pergerakan abu vulkanik.
Dari pemantauan pada Senin (7/9/2026) pagi, titik operasi ditempatkan di bagian timur dari area yang teridentifikasi sebagai wilayah terdampak abu. Langkah itu dilakukan dengan mempertimbangkan faktor keselamatan penerbangan.
“Target operasi di sebelah timur area merah itu, karena sangat berbahaya jika pesawat masuk ke area merah yang masih terdampak debu vulkanik,” ujar Budi.
Pergerakan abu vulkanik juga terus dipantau karena arah angin dapat berubah dan memengaruhi wilayah terdampak. Pada Senin sore, data pemantauan menunjukkan abu mulai bergerak ke arah barat.
Perubahan arah tersebut membuka kemungkinan perluasan wilayah operasi hingga kawasan Sumatra, khususnya apabila kondisi ruang udara telah dinilai aman untuk penerbangan.
“Jika ruang udaranya sudah memungkinkan untuk dilalui penerbangan, bisa jadi juga sampai area Lampung,” kata Budi.
BMKG hingga kini belum menetapkan kapan Operasi Modifikasi Cuaca tersebut akan dihentikan. Pelaksanaan OMC akan disesuaikan dengan perkembangan kondisi di lapangan, termasuk pergerakan abu vulkanik dan keamanan ruang udara.
Operasi penyemaian awan akan dilakukan secara fleksibel sampai kondisi ruang udara dinilai kembali bersih dan aman untuk aktivitas penerbangan.