JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sejumlah kejadian bencana yang terjadi di berbagai daerah dalam periode pemantauan 18 Juni 2026 pukul 07.00 WIB hingga 19 Juni 2026 pukul 07.00 WIB. Bencana hidrometeorologi, khususnya banjir, masih menjadi peristiwa yang paling banyak terjadi, meski di beberapa wilayah lain masyarakat mulai menghadapi dampak musim kemarau berupa kekeringan.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari mengatakan pihaknya terus memantau perkembangan situasi kebencanaan di berbagai daerah serta memastikan langkah penanganan berjalan sesuai kebutuhan masyarakat terdampak.
“BNPB mengimbau pemerintah daerah dan warga untuk tetap waspada dan siap siaga. Saat beberapa wilayah telah memasuki musim kemarau, masyarakat diharapkan bijak dalam memanfaatkan air. Sedangkan untuk menghadapi potensi bencana hidrometeorologi basah, masyarakat perlu memantau informasi cuaca secara berkala dari sumber resmi pemerintah,” kata Abdul Muhari dalam laporan perkembangan situasi bencana, Jumat (19/6).
Salah satu bencana yang terjadi adalah banjir di Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo, pada Kamis (18/6) sekitar pukul 12.30 WITA. Hujan berintensitas tinggi menyebabkan genangan di sejumlah wilayah, yakni Desa Diloato di Kecamatan Paguyaman serta Desa Harapan, Mekar Jaya, dan Bongo Tua di Kecamatan Wonosari.
Meski banjir berangsur surut pada hari yang sama, peristiwa tersebut meninggalkan material sampah di kawasan terdampak. Berdasarkan hasil kaji cepat, sebanyak 172 kepala keluarga atau 486 jiwa terdampak bencana tersebut.
Selain berdampak pada masyarakat, banjir juga menyebabkan kerusakan pada 155 unit rumah. BPBD setempat turut mencatat satu kantor pemerintahan dan satu fasilitas pendidikan terdampak akibat genangan.
Banjir juga dilaporkan terjadi di Kelurahan Muara Enim, Kecamatan Lubuklinggau Barat, Kota Lubuklinggau, Provinsi Sumatera Selatan. Peristiwa yang terjadi pada Kamis (18/6) pukul 03.00 WIB itu dipicu hujan lebat yang mengguyur wilayah tersebut dalam durasi cukup panjang.
BPBD Kota Lubuklinggau melaporkan kondisi banjir telah surut pada hari yang sama. Meski demikian, sebanyak 15 kepala keluarga atau 42 jiwa tercatat terdampak akibat kejadian tersebut.
Di tengah masih tingginya kejadian banjir, beberapa daerah justru mulai menghadapi ancaman kekeringan akibat fenomena Hari Tanpa Hujan (HTH). Salah satu wilayah yang melaporkan kondisi tersebut adalah Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.
Kekeringan dilaporkan terjadi di Desa Kedungrejo, Kecamatan Winongan. Sebanyak 211 kepala keluarga terdampak akibat berkurangnya ketersediaan air bersih.
Sebagai langkah penanganan darurat, BPBD Kabupaten Pasuruan telah menyalurkan bantuan air bersih kepada warga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Sementara itu, BNPB juga terus memantau perkembangan dampak gempa bumi berkekuatan Magnitudo 6,7 yang mengguncang Sulawesi Tengah. Data terbaru yang dihimpun hingga Kamis (18/6) pukul 16.25 WIB menunjukkan jumlah korban meninggal dunia mencapai tiga orang.
Selain korban meninggal, sebanyak 17 orang mengalami luka berat dan 101 orang lainnya mengalami luka ringan akibat gempa yang melanda sejumlah wilayah di Sulawesi Tengah.
Gempa tersebut berdampak pada empat wilayah administrasi, yakni Kota Palu, Kabupaten Sigi, Kabupaten Parigi Moutong, dan Kabupaten Donggala.
Dari sisi kerusakan fisik, BNPB mencatat sebanyak 1.995 rumah mengalami rusak ringan, 147 rumah rusak sedang, dan 73 rumah rusak berat.
Kerusakan juga terjadi pada berbagai fasilitas publik, mulai dari fasilitas pendidikan, kantor pemerintahan, tempat ibadah hingga bangunan umum lainnya.
Abdul Muhari menjelaskan bahwa proses penanganan darurat masih terus dilakukan oleh pemerintah daerah bersama unsur terkait. Pendataan dan pemutakhiran informasi dampak gempa juga masih berlangsung untuk memastikan kebutuhan warga terdampak dapat dipenuhi secara tepat.
Dalam upaya mempercepat penanganan, BNPB telah mengirimkan berbagai bantuan logistik dan peralatan darurat ke wilayah terdampak gempa.
“Penanganan darurat terus dilakukan di lapangan. BNPB juga telah menyalurkan bantuan berupa tenda pengungsi, tenda keluarga, matras, selimut, kasur lipat, serta paket sembako untuk mendukung kebutuhan masyarakat terdampak,” ujar Abdul Muhari.
Selain dukungan logistik, Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto juga telah berada di lokasi terdampak guna memastikan proses tanggap darurat berjalan efektif dan kebutuhan warga dapat segera terpenuhi.
BNPB kembali mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana yang masih dapat terjadi, baik akibat cuaca ekstrem maupun dampak musim kemarau yang mulai dirasakan di sejumlah wilayah Indonesia. Pemerintah daerah juga diminta terus memperkuat langkah mitigasi dan respons cepat guna meminimalkan risiko korban maupun kerugian akibat bencana.



