Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) turut menyoroti gejolak aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. Melalui pemantauan armada satelit di luar angkasa, NASA berhasil mengabadikan momen letusan eksplosif yang memuntahkan kolom abu pekat hingga menembus lapisan atmosfer.
Dalam rilisan resminya, NASA mencatat bahwa erupsi berskala besar yang berlangsung lebih dari 24 jam pada awal September 2026 tersebut telah memicu gangguan sistemik terhadap mobilitas udara dan kualitas lingkungan di Indonesia.
“Erupsi dahsyat yang berlangsung lebih dari 24 jam ini memuntahkan gas dan abu vulkanik ke atmosfer, berdampak pada terganggunya ribuan jadwal penerbangan serta menurunkan kualitas udara di beberapa wilayah, termasuk ibu kota Jakarta,” tulis penyataan resmi NASA.
Rekaman Citra Satelit Landsat 8 dan Suomi NPP
Satelit milik NASA dan USGS yang melintas di atas wilayah Indonesia menangkap gambar-gambar visual letusan secara mendetail.
Instrumen Operational Land Imager (OLI) pada Satelit Landsat 8 memperlihatkan gumpalan putih gas vulkanik yang membubung tinggi di atas awan abu berwarna cokelat pekat. Sementara itu, pemandangan dengan cakupan lebih luas dari instrumen VIIRS pada Satelit Suomi NPP merekam sebaran material vulkanik yang membentang luas menutupi perairan Selat Sunda.
Laporan meteorologi nasional mengonfirmasi bahwa sebaran abu vulkanik sempat membumbung hingga ketinggian 6.000 meter ke arah timur dan mencapai 15.000 meter ke arah barat.
Lumpuhkan 3.000 Penerbangan dan Picu Hujan Abu di Jakarta
Dampak dari tingginya sebaran abu vulkanik di atmosfer sempat menghentikan operasional penerbangan secara masif. Penutupan sementara terpaksa diberlakukan di delapan bandara utama di Jawa dan Sumatra, yang berdampak pada pembatalan serta penundaan hampir 3.000 penerbangan komersial.
Selain sektor penerbangan, paparan hujan abu melanda kawasan padat penduduk di sebelah timur Anak Krakatau, mencakup wilayah Jawa Barat hingga Jakarta, yang memicu ancaman iritasi saluran pernapasan, mata, dan kulit bagi masyarakat.
Memasuki 6 September 2026, intensitas letusan eksplosif Anak Krakatau dilaporkan mulai berangsur melandai, meski gemuruh dari dalam perut bumi masih terus terdengar.
“Aktivitas vulkanik kini kembali ke pola erupsi Strombolian yang khas, ditandai semburan material dan abu secara berkala. Seluruh bandara telah beroperasi kembali pada 8 September, namun status gunung api ini tetap dipertahankan pada tingkat Siaga (Level III),” tutup laporan pemantauan NASA.