Otoritas India memberlakukan undang-undang anti-terorisme utama negara tersebut, Unlawful Activities (Prevention) Act, untuk menyelidiki ledakan Delhi. Badan Investigasi Nasional telah mengambil alih penyelidikan.
Ledakan terjadi hanya beberapa jam setelah polisi menangkap beberapa individu, termasuk dokter, dan menyita 2.900 kg bahan peledak yang terkait dengan kelompok militan berbasis Pakistan, Jaish-e-Mohammed.
Polisi menduga ledakan tersebut mungkin merupakan serangan bunuh diri yang melibatkan Hyundai i20 yang diisi dengan amonium nitrat, meskipun para penyelidik belum secara resmi mengonfirmasi apakah insiden tersebut disengaja.
Di Islamabad, Jamaat-ul-Ahrar, sebuah faksi sempalan dari Taliban Pakistan, mengklaim bertanggung jawab atas pengeboman gedung pengadilan. Kelompok tersebut mengatakan mereka menargetkan “hakim, pengacara, dan pejabat yang melaksanakan putusan berdasarkan hukum Pakistan yang tidak Islami”. Namun, Taliban Pakistan utama membantah keterlibatan mereka.
Tuduhan Lintas Batas
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyalahkan “proksi teroris yang didukung oleh India” atas serangan Islamabad, tanpa memberikan bukti. Kementerian luar negeri India menolak tuduhan tersebut sebagai “tidak berdasar dan tidak beralasan”.
Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif menyatakan negara tersebut “dalam keadaan perang,” memperingatkan bahwa terorisme telah mencapai jantung negara. Dia menuduh pemerintah Taliban Afghanistan membiarkan militan beroperasi dari wilayahnya.
Serangan ganda tersebut terjadi hanya enam bulan setelah gencatan senjata yang dimediasi AS mengakhiri empat hari pertempuran sengit antara India dan Pakistan pada Mei 2025. Konflik tersebut meletus setelah serangan militan di Kashmir yang dikuasai India menewaskan 26 turis, memicu serangan rudal India ke wilayah Pakistan dalam Operasi Sindoor.
Ledakan-ledakan tersebut telah mendorong peningkatan keamanan di kedua negara, dengan otoritas India menempatkan kota-kota besar termasuk Mumbai dalam siaga tinggi. Insiden-insiden tersebut menggarisbawahi kerapuhan gencatan senjata dan tantangan keamanan yang terus-menerus dihadapi kedua negara dari kelompok militan yang beroperasi di kawasan tersebut.