JAKARTA – Anggota Komisi V DPR RI Sudjatmiko mendesak investigasi menyeluruh atas kebakaran KM Mutiara Sentosa II di perairan utara Sumenep, Jawa Timur, yang menewaskan lima orang. Ia meminta pemerintah memastikan tragedi serupa tidak kembali terulang melalui evaluasi total sistem keselamatan pelayaran.
Hingga Selasa (4/8/2026), penanganan musibah tersebut mencatat lima orang meninggal dunia, sementara ratusan penumpang lainnya berhasil dievakuasi melalui operasi penyelamatan berskala besar. Operasi itu melibatkan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Kementerian Perhubungan, TNI, Polri, pemerintah daerah, hingga berbagai unsur terkait lainnya. Proses identifikasi korban dan pencocokan data manifes penumpang disebut masih terus berlangsung untuk memastikan seluruh penumpang telah terdata secara akurat.
Sudjatmiko menyampaikan belasungkawa mendalam kepada keluarga korban yang meninggal dunia dan mendoakan agar para penumpang yang selamat segera pulih serta dapat berkumpul kembali dengan keluarga masing-masing. Ia berharap keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan menghadapi musibah ini.
Desak Investigasi Independen sebagai Dasar Evaluasi Menyeluruh
Sebagai anggota Komisi V DPR RI yang membidangi urusan infrastruktur dan transportasi, Sudjatmiko menegaskan kejadian ini tidak boleh dianggap sebagai insiden biasa. Ia menilai kecelakaan transportasi laut yang terus berulang menunjukkan adanya persoalan sistemik yang harus segera dibenahi.
Menurutnya, investigasi yang objektif dan mendalam menjadi kunci untuk mengetahui akar masalah kebakaran, sekaligus menjadi pijakan untuk mengevaluasi kelaikan kapal, standar operasional prosedur keselamatan, hingga efektivitas pengawasan yang selama ini dijalankan regulator. Ia menekankan bahwa keselamatan penumpang harus ditempatkan sebagai prioritas utama dalam setiap operasional pelayaran.
Apresiasi untuk Tim Gabungan SAR
Di sisi lain, Sudjatmiko memberikan apresiasi tinggi kepada seluruh tim gabungan yang bergerak cepat dalam proses evakuasi dan pencarian korban, mulai dari Basarnas, Kementerian Perhubungan, TNI, Polri, pemerintah daerah, hingga para nelayan yang turut membantu di lapangan. Ia menilai kecepatan respons dan solidnya koordinasi antarinstansi menjadi faktor penentu yang berhasil menyelamatkan ratusan nyawa di tengah situasi darurat di laut.
Ia turut menyoroti optimalnya pemanfaatan berbagai sarana penyelamatan dalam operasi tersebut, termasuk penggunaan Rigid Inflatable Boat (RIB), kapal-kapal penyelamat, drone udara, serta sejumlah peralatan pencarian lain yang mempercepat proses evakuasi dan pencarian korban di laut. Menurutnya, kerja profesional dan dedikasi seluruh personel yang terlibat mencerminkan kehadiran negara dalam melindungi keselamatan masyarakat.
Sistem Proteksi Kebakaran Kapal Penumpang Perlu Diperkuat
Selain mendorong pengusutan penyebab kebakaran, Sudjatmiko menyoroti perlunya penguatan standar keselamatan pada kapal-kapal penumpang, khususnya terkait sistem proteksi kebakaran. Ia mengingatkan bahwa sebagai negara kepulauan dengan intensitas pelayaran yang tinggi, Indonesia mutlak memerlukan sistem pemadam kebakaran kapal yang andal, mencakup teknologi deteksi dini, sistem sprinkler, pompa kebakaran, hingga jaringan fire main system yang dapat memanfaatkan air laut sebagai sumber pasokan pemadaman. Sistem-sistem tersebut, lanjutnya, wajib diuji secara berkala agar tetap berfungsi optimal ketika dibutuhkan dalam kondisi darurat.
Sudjatmiko menegaskan bahwa keberadaan alat pemadam api portabel semata tidak akan cukup jika tidak dibarengi sistem pemadam tetap yang mampu menjangkau seluruh bagian kapal. Karena itu, ia mendorong Kementerian Perhubungan segera mengevaluasi standar perlindungan kebakaran di seluruh armada kapal penumpang nasional, mencakup kesiapan peralatan, pelaksanaan simulasi keadaan darurat secara rutin, hingga peningkatan kompetensi awak kapal dalam menangani insiden kebakaran di atas kapal.
Ia menambahkan, keselamatan pelayaran tidak semestinya hanya bertumpu pada keberanian dan kesigapan kru saat musibah terjadi, melainkan harus ditopang oleh sistem keselamatan yang modern serta memenuhi standar nasional maupun internasional. Baginya, langkah pencegahan mesti menjadi prioritas utama agar setiap kapal memiliki kemampuan merespons potensi kebakaran sejak dini, sebelum api sempat membesar dan sulit dikendalikan.
Komisi V Kawal Proses Investigasi KNKT
Sudjatmiko memastikan Komisi V DPR RI akan terus mengawal jalannya investigasi yang dilakukan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) bersama Kementerian Perhubungan. Pengawalan tersebut mencakup evaluasi menyeluruh terhadap operator kapal, tingkat kepatuhan terhadap standar keselamatan pelayaran, akurasi data manifes penumpang, hingga penguatan sistem pengawasan transportasi laut secara umum agar kejadian serupa tidak terulang di kemudian hari.
Ia menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa tragedi KM Mutiara Sentosa II harus menjadi titik balik bagi pembenahan keselamatan transportasi laut Indonesia. Negara, katanya, wajib memastikan setiap warga memperoleh layanan transportasi yang aman, nyaman, dan berkeselamatan, melalui pengawasan yang lebih ketat, penegakan regulasi yang konsisten, serta penguatan kapasitas lembaga penyelamatan dan seluruh sistem keselamatan pelayaran nasional.



