JAKARTA — Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan fenomena surutnya air laut di perairan Banten yang viral di media sosial tidak berkaitan dengan erupsi Gunung Anak Krakatau dan tidak mengindikasikan potensi tsunami.
Klarifikasi ini disampaikan untuk meluruskan informasi yang beredar sekaligus meredam kekhawatiran masyarakat yang mengaitkan fenomena tersebut dengan aktivitas vulkanik di Selat Sunda.
Surveyor Pemetaan Ahli Madya Badan Geologi, Athanasius Cipta, menjelaskan bahwa video yang menunjukkan kondisi laut surut itu direkam setelah rangkaian erupsi Anak Krakatau berakhir. Ia mengungkapkan, waktu pengambilan gambar terjadi pada 6 September 2022, sementara aktivitas erupsi menerus berlangsung pada 4 hingga 5 September 2022.
“Video yang beredar itu diambil tanggal 6 September 2022, sedangkan erupsi menerus terjadi tanggal 4 sampai 5 September 2022,” ujarnya.
Ia menambahkan, Badan Geologi telah mengumumkan berakhirnya erupsi menerus tersebut pada dini hari 6 September 2022. Dengan demikian, secara kronologis tidak terdapat keterkaitan antara aktivitas erupsi dengan fenomena surutnya air laut yang terekam dalam video tersebut.
Badan Geologi memastikan, peristiwa surut laut itu merupakan fenomena alami yang tidak dipicu oleh aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Meski demikian, Athanasius mengingatkan bahwa dalam kondisi tertentu, surutnya air laut secara tiba-tiba memang bisa menjadi salah satu tanda awal tsunami. Namun, ia menekankan pentingnya membedakan karakteristik surut laut akibat tsunami dengan fenomena pasang surut harian.
Menurut dia, surut laut yang berkaitan dengan tsunami biasanya terjadi sangat cepat dan air laut mundur jauh dari garis pantai. Sementara itu, surut akibat pasang surut alami berlangsung lebih lambat dan dalam batas yang wajar.
“Surut yang berkaitan dengan tsunami kecepatannya jauh lebih tinggi dan jaraknya lebih jauh dibandingkan surut harian biasa,” katanya.
Badan Geologi juga mengingatkan bahwa kawasan Gunung Anak Krakatau memiliki sejarah terkait kejadian tsunami. Salah satunya terjadi pada Desember 2018 yang berdampak pada wilayah pesisir barat Banten dan Kalianda, Lampung.
Selain itu, letusan besar Krakatau pada 1883 juga menjadi catatan penting. Peristiwa tersebut memicu tsunami besar dengan ketinggian gelombang mencapai sekitar 22 meter di Teluk Betung, sekitar 15 meter di wilayah Carita dan Anyer, serta menyebabkan kenaikan muka air laut hingga 1,8 meter di Tanjung Priok, Jakarta.
Meski memiliki rekam jejak tersebut, hasil pemantauan terbaru menunjukkan belum ada indikasi erupsi besar pada Gunung Anak Krakatau yang berpotensi memicu tsunami. Aktivitas gunung api tersebut dinilai relatif stabil sejak peristiwa 2018.
Sebagai langkah kewaspadaan, masyarakat dan wisatawan diimbau untuk tidak beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif ketika terjadi peningkatan aktivitas vulkanik.
Badan Geologi juga meminta masyarakat tidak mudah terpancing informasi yang belum terverifikasi di media sosial dan mengimbau agar selalu mengacu pada informasi resmi melalui platform Magma Indonesia maupun kanal resmi Badan Geologi.