Keputusan Ducati menyuplai empat motor spesifikasi pabrikan (GP26) musim ini awalnya disambut hangat oleh Francesco ‘Pecco’ Bagnaia. Usai rentetan kesulitan yang ia hadapi musim lalu, juara dunia MotoGP dua kali itu berharap keberadaan Alex Marquez di tim satelit Gresini yang menunggangi motor serupa dapat memberikan amunisi data telemetri tambahan untuk memecahkan masalah.
Pada beberapa seri sebelumnya, Pecco bahkan terang-terangan memuji performa gemilang Alex Marquez di tengah masa-masa sulitnya di Sachsenring dan Silverstone.
“Jika kami bisa memahami apa yang dilakukan Alex Marquez, kami bisa tampil kompetitif. Dari data yang kami lihat, Alex adalah pebalap yang mendapatkan dukungan paling maksimal dari karakter motor ini,” ujar Bagnaia saat berlaga di Jerman.
Pujian serupa ia lontarkan di Silverstone: “Beruntung di tim satelit kami punya Alex Marquez yang tampil fantastis, sangat kuat, dan menjadi sosok yang pembeda dibanding pebalap Ducati lainnya.”
Menderita di Aragon: “Seperti Melihat Dua Motor yang Berbeda”
Namun, penderitaan Bagnaia kembali berlanjut di GP Aragon. Ia berjuang keras mengatasi minimnya daya cengkeram (grip) pada ban belakang. Masalah tersebut kian parah saat ia mulai membuka poros gas, di mana bagian belakang motornya terus tergelincir dan tidak stabil.
Pada sesi Sprint Race, Bagnaia terlempar ke posisi ke-11 dan finis 14 detik di belakang rekan setimnya Marc Marquez serta Alex Marquez yang mengunci posisi runner-up. Usai balapan, Bagnaia mengakui bahwa jurang perbedaan antara data miliknya dan Alex kini begitu besar hingga sulit untuk diperbandingkan secara langsung.
“Kami tidak bisa memahami di mana mereka berhasil menemukan peningkatan itu. Sangat sulit bahkan untuk sekadar membandingkan datanya karena perbedaannya terlalu banyak, terutama saat membuka gas. Ini seperti melihat dua motor yang sama sekali berbeda,” ungkap Bagnaia mengutip Sky Italia.
Kondisi temperatur lintasan yang kian panas di MotorLand Aragon diakuinya makin memperparah masalah rotasi dan daya cengkeram belakang motor Desmosedici GP26 miliknya.
“Saya Tidak Akan Pernah Menyerah”
Meski performanya sedang merosot sebelum kepindahannya ke Aprilia pada musim 2027 mendatang, Pecco menegaskan komitmennya untuk tidak melepas sisa musim ini begitu saja.
“Saat ini saya menerima posisi saya dan melakukan apa yang saya bisa. Saya tahu betul potensi saya ketika merasa nyaman dengan motor adalah menang atau finis di tiga besar,” tegas Bagnaia.
Ia menyadari bahwa DNA pengembangan motor Ducati dalam dua tahun terakhir kurang cocok dengan gaya berkendaranya. Namun, ia enggan menjadikan hal tersebut sebagai alasan untuk menyerah.
“Saya di sini untuk melaju kencang. Sayangnya dalam dua tahun terakhir, kesempatan untuk tampil sangat baik cukup minim. Tapi satu hal yang pasti: menyerah bukanlah opsi bagi saya. Akan ada momen seperti di Brno, Le Mans, atau Mugello di mana saya berada di depan, dan ada momen sulit seperti sekarang. Saya akan tetap memberikan yang terbaik di setiap akhir pekan,” pungkasnya.
Di sisi lain, pebalap Pertamina Enduro VR46, Fabio Di Giannantonio—yang juga mengendarai GP26—start dari posisi ketujuh tepat di depan Bagnaia, namun nasib sial menghampirinya setelah terjatuh pada lap pembuka sesi Sprint Race.



