SULUT – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,4 mengguncang wilayah Tahuna, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, Kamis (11/6/2026) pagi. Guncangan yang terjadi di kawasan perairan timur laut Sangihe itu sempat menjadi perhatian warga, namun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan gempa tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami.
Berdasarkan informasi awal yang dirilis BMKG, gempa terjadi pada pukul 08.56 WIB atau 09.56 WITA dengan pusat gempa berada di laut, sekitar 142 kilometer timur laut Tahuna, Kepulauan Sangihe.
BMKG mencatat episentrum gempa berada pada koordinat 4,89 Lintang Utara dan 125,50 Bujur Timur dengan kedalaman 10 kilometer. Kedalaman yang tergolong dangkal tersebut membuat getaran gempa berpotensi dirasakan di sejumlah wilayah sekitar pusat gempa.
Dalam laporan resminya, BMKG menyampaikan, “Info Gempa Mag: 5.4, 11-Jun-26 08:56:12 WIB, Lok: 4.89 LU, 125.50 BT (142 km timur laut Tahuna-Kep. Sangihe-Sulut), Kedlmn: 10 Km.”
Meski terjadi di kawasan laut, BMKG menegaskan bahwa hasil analisis sementara menunjukkan gempa tersebut tidak memicu ancaman tsunami sehingga masyarakat diminta tetap tenang dan tidak terpengaruh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Gempa Terjadi di Zona Aktif Sulawesi Utara
Wilayah Kepulauan Sangihe merupakan salah satu kawasan yang berada di jalur seismik aktif Indonesia. Posisinya yang berdekatan dengan pertemuan sejumlah lempeng tektonik menyebabkan aktivitas gempa bumi relatif sering terjadi.
Gempa yang terjadi pada Kamis pagi ini menambah daftar aktivitas tektonik di kawasan utara Sulawesi yang selama ini dikenal memiliki tingkat kegempaan cukup tinggi. Namun hingga laporan awal diterbitkan, belum terdapat informasi mengenai kerusakan bangunan maupun korban akibat peristiwa tersebut.
Otoritas setempat dan instansi terkait masih terus melakukan pemantauan untuk memastikan kondisi di lapangan pascagempa.
BMKG: Data Awal Masih Bisa Berubah
BMKG mengingatkan bahwa informasi yang disampaikan merupakan hasil analisis cepat atau *quick assessment* yang mengutamakan kecepatan penyampaian kepada masyarakat. Karena itu, parameter gempa seperti magnitudo, lokasi episentrum, maupun kedalaman masih berpotensi mengalami pembaruan seiring masuknya data tambahan dari jaringan pemantauan.
Dalam keterangannya, BMKG menegaskan, “Disclaimer: Informasi ini mengutamakan kecepatan, sehingga hasil pengolahan data belum stabil dan bisa berubah seiring kelengkapan data.”
Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa masyarakat perlu merujuk pada informasi resmi BMKG untuk memperoleh perkembangan terbaru terkait aktivitas gempa yang terjadi.
Masyarakat Diminta Tetap Waspada
Meski tidak berpotensi tsunami, warga di wilayah Sulawesi Utara, khususnya Kepulauan Sangihe, diimbau tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan. Masyarakat juga diminta memastikan kondisi bangunan sebelum kembali beraktivitas normal apabila merasakan guncangan yang cukup kuat.
Hingga berita ini diturunkan, BMKG masih melakukan pemantauan intensif terhadap aktivitas seismik di sekitar lokasi gempa. Belum ada laporan resmi mengenai dampak signifikan yang ditimbulkan akibat gempa magnitudo 5,4 tersebut.
Perkembangan lebih lanjut terkait gempa Tahuna akan terus diperbarui berdasarkan hasil analisis dan laporan dari otoritas terkait di lapangan.