TEHERAN – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memasuki fase berbahaya setelah Washington melancarkan serangan militer baru ke sejumlah wilayah strategis Iran. Sebagai balasan, Teheran mengklaim menyerang beberapa fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Teluk serta menutup Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi paling vital di dunia.
Eskalasi terbaru tersebut terjadi pada Rabu (10/6/2026) malam waktu setempat ketika militer Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap berbagai target di Iran atas perintah Presiden Donald Trump.
Militer AS menyatakan operasi tersebut dilakukan sebagai respons terhadap apa yang disebut sebagai “agresi Iran yang tidak beralasan dan berkelanjutan”. Serangan itu menandai peningkatan signifikan dalam konfrontasi kedua negara yang dalam beberapa pekan terakhir terus saling melancarkan aksi militer dan ancaman politik.
Media pemerintah Iran melaporkan sejumlah ledakan mengguncang beberapa wilayah penting di pesisir selatan negara tersebut. Ledakan dilaporkan terjadi di Pulau Qeshm serta kota Bandar Abbas dan Sirik yang berada di sepanjang Selat Hormuz.
Selain itu, kota Kargan di bagian selatan Iran juga dilaporkan menjadi sasaran serangan yang mengakibatkan sedikitnya dua warga mengalami luka-luka.
Situasi semakin memanas setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menuduh Amerika Serikat kembali melanggar kesepakatan gencatan senjata yang dicapai pada April lalu.
Dalam pernyataannya, IRGC mengumumkan penutupan Selat Hormuz hingga waktu yang belum ditentukan.
“Selat Hormuz ditutup hingga pemberitahuan lebih lanjut,” demikian pernyataan IRGC.
Keputusan tersebut berpotensi menimbulkan dampak besar terhadap perdagangan global. Selat Hormuz selama ini menjadi jalur utama pengiriman minyak mentah dan gas alam dari kawasan Timur Tengah menuju pasar internasional.
Iran menegaskan seluruh aktivitas pelayaran di jalur strategis itu akan terdampak, termasuk kapal tanker minyak maupun kapal-kapal komersial. Teheran juga membantah klaim Washington yang sebelumnya menyebut telah membantu menjaga kelancaran pelayaran di kawasan tersebut.
Tak hanya mengumumkan penutupan jalur laut, IRGC juga mengklaim telah menyerang dua kapal tanker minyak yang disebut mencoba melintas secara ilegal di perairan tersebut.
Selain itu, Iran mengaku melancarkan serangan terhadap sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Teluk, termasuk Pangkalan Udara Sheikh Isa di Bahrain serta Pangkalan Udara Ali Al Salem dan Ahmad Al-Jaber di Kuwait.
Meski demikian, hingga laporan ini disusun belum terdapat konfirmasi independen mengenai tingkat kerusakan maupun jumlah korban akibat serangan yang diklaim Iran tersebut.
Konfrontasi terbaru ini terjadi hanya sehari setelah kedua negara terlibat aksi saling balas serangan menyusul insiden jatuhnya helikopter tempur Apache milik Amerika Serikat di kawasan Selat Hormuz.
Dua pilot yang berada di dalam helikopter tersebut dilaporkan berhasil diselamatkan setelah operasi pencarian di perairan sekitar lokasi kejadian.
Di tengah meningkatnya ketegangan, Presiden Donald Trump kembali melontarkan pernyataan keras terhadap Teheran.
Berbicara kepada wartawan di Gedung Putih, Trump menegaskan Amerika Serikat siap meningkatkan tekanan militer apabila Iran terus menolak mencapai kesepakatan yang diinginkan Washington.
“Kita lihat saja apa yang terjadi dengan kesepakatan itu. Kita sudah sangat dekat dengan kesepakatan. Tapi mereka terus mengulur waktu. Mereka terus memperlakukan kita seperti orang bodoh,” kata Trump.
Sebelumnya, melalui platform Truth Social miliknya, Trump menuding Iran sengaja memperpanjang proses negosiasi perdamaian.
“Iran terlalu lama bernegosiasi untuk mencapai kesepakatan perdamaian dan sekarang mereka harus membayar harganya,” tulis Trump.
Dalam wawancara dengan Fox News, Trump bahkan mengancam akan memperluas target serangan ke infrastruktur strategis Iran apabila Teheran tetap menolak menandatangani perjanjian yang ditawarkan Amerika Serikat.
Ancaman tersebut mencakup kemungkinan serangan terhadap fasilitas pembangkit listrik hingga jaringan jembatan yang menjadi penopang aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat Iran.
Pernyataan Trump langsung mendapat respons keras dari Presiden Iran Masoud Pezeshkian.
Melalui unggahan di media sosial X, Pezeshkian menilai ancaman terhadap infrastruktur sipil menunjukkan kegagalan pendekatan tekanan yang dilakukan Amerika Serikat terhadap negaranya.
“Infrastruktur penting adalah denyut nadi kehidupan rakyat. Ancaman untuk menargetkan infrastruktur tersebut – mulai dari jaringan transportasi hingga industri listrik dan air – bukanlah demonstrasi kekuatan, melainkan tanda keputusasaan dalam menghadapi tekad suatu bangsa,” tulis Pezeshkian.
Presiden Iran itu menegaskan negaranya tidak akan menyerah terhadap tekanan eksternal dan akan terus mempertahankan kedaulatan nasional.
“Iran, dengan mengandalkan pengetahuan dan kemampuan para spesialisnya, persatuan nasional, dan solidaritas, akan berdiri teguh menghadapi tekanan atau ancaman apa pun,” tegasnya.
Meningkatnya konflik antara Washington dan Teheran kini menjadi perhatian dunia internasional. Selain berpotensi memicu perang terbuka yang lebih luas di Timur Tengah, penutupan Selat Hormuz juga menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global dan keamanan jalur perdagangan internasional.
Para pengamat menilai perkembangan beberapa hari ke depan akan menjadi penentu apakah kedua negara masih memiliki ruang diplomasi atau justru semakin mendekati konfrontasi militer yang lebih besar.