JAKARTA – Presiden FIFA Gianni Infantino akhirnya angkat bicara setelah Piala Dunia 2026 berakhir melalui pernyataan sepanjang sekitar 15 halaman yang diunggah di media sosial.
Alih-alih menggelar konferensi pers, Infantino memilih menyampaikan pembelaan terhadap FIFA sekaligus menanggapi berbagai kritik yang muncul selama turnamen.
Ia menilai banyak pihak lebih fokus membesar-besarkan kontroversi daripada melihat dampak positif yang dihasilkan ajang sepak bola terbesar di dunia tersebut.
Menurut Infantino, Piala Dunia 2026 menghadirkan momen kebersamaan yang mempertemukan miliaran pencinta sepak bola dari berbagai negara dan latar belakang.
Ia menyebut turnamen tersebut menjadi bukti nyata bahwa olahraga mampu menyatukan keluarga, anak-anak, orang tua, hingga kakek dan nenek.
Infantino juga menyayangkan masih adanya pihak yang terus menyerang FIFA meski kompetisi telah selesai digelar.
Ia mengajak para pengkritik memanfaatkan waktu dengan kegiatan yang lebih bermanfaat daripada terus melontarkan kebencian.
“Jika Anda memiliki waktu luang, daripada menghabiskannya untuk membenci, bermeditasilah, berdoalah, tersenyumlah, habiskan waktu bersama orang-orang tercinta, atau tontonlah pertandingan sepak bola,” ungkapnya seperti dikutip dari India Today, Senin (27/7/2026).
“Bagi Anda yang melewatkan momen anak-anak, bayi, kakek, nenek, dan orang tua berkumpul menikmati indahnya sepak bola, saya minta maaf karena pertandingan kini telah berakhir dan Anda kehilangan kebahagiaan serta kebersamaan itu.”
“Saya juga meminta maaf karena Anda begitu dipenuhi kebencian dan kritik hingga melewatkan semua momen tersebut.”
Infantino menegaskan FIFA tetap fokus memastikan penyelenggaraan Piala Dunia berjalan lancar meski mendapat sorotan sepanjang kompetisi.
Ia memuji kerja keras relawan, negara tuan rumah, aparat keamanan, hingga seluruh pihak yang mendukung suksesnya turnamen.
Menurutnya, pertandingan berlangsung aman dan hanya diwarnai beberapa insiden yang tidak seharusnya menutupi keseluruhan keberhasilan ajang tersebut.
Infantino juga membela keputusan-keputusan disipliner FIFA yang sempat dipersoalkan berbagai kalangan.
Ia menilai keputusan serupa sebenarnya lazim diterapkan dalam kompetisi domestik di berbagai negara sehingga tidak pantas dijadikan polemik besar.
Meski demikian, Piala Dunia 2026 tetap dibayangi sejumlah persoalan di luar lapangan yang memicu kritik terhadap FIFA.
Beberapa suporter dan ofisial dari Iran, Senegal, Haiti, serta Pantai Gading mengalami kendala visa akibat kebijakan perjalanan Amerika Serikat.
FIFA juga menghadapi penyelidikan terkait kebijakan harga tiket yang dinilai memicu kontroversi selama turnamen berlangsung.
Kontroversi lain muncul setelah hukuman penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun, dibatalkan menjelang babak 16 besar.
Keputusan itu memicu dugaan adanya intervensi politik setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengaku berbicara dengan Infantino mengenai kasus tersebut.
UEFA, Federasi Sepak Bola Belgia, serta sejumlah anggota parlemen Eropa mempertanyakan keputusan FIFA tersebut.
Presiden UEFA Aleksander Ceferin bahkan memilih tidak menghadiri partai final sebagai bentuk protes terhadap penanganan sejumlah persoalan oleh FIFA.
Dalam pernyataannya, Infantino juga tidak menyinggung beberapa kontroversi besar lainnya.
Di antaranya meninggalnya empat suporter saat perayaan Piala Dunia di Mexico City serta proses hukum yang masih melibatkan pendukung Iran.
Meski kritik terus berdatangan, Infantino tetap menegaskan tujuan utama Piala Dunia 2026 telah tercapai.
Ia berharap publik lebih mengingat turnamen tersebut sebagai ajang yang mempererat persatuan dunia melalui sepak bola dibanding berbagai kontroversi yang menyertainya.***