JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) menutup perdagangan Jumat (21/3/2025) dengan penurunan signifikan.
IHSG anjlok 1,94% atau turun 123,49 poin, berakhir di level 6.258,18, setelah dibuka di posisi 6.381,67.
Pelemahan ini sejalan dengan tren bursa saham Asia Pasifik yang juga mengalami tekanan pada hari yang sama.
Berdasarkan data BEI, IHSG mengalami penurunan sejak sesi pertama perdagangan.
Pada penutupan sesi I, indeks tercatat turun 1,54% ke level 6.283,52.
Tekanan berlanjut hingga sesi kedua, dengan mayoritas sektor saham memerah.
Dari pantauan pasar, sebanyak 384 saham melemah, sementara 205 saham menguat, dan 218 saham lainnya stagnan.
Volume perdagangan mencapai 16,1 miliar saham dengan nilai transaksi harian Rp10,1 triliun.
Analis pasar modal dari Ciptadana Sekuritas Asia, Valdy Kurniawan, menilai pelemahan IHSG dipengaruhi oleh sentimen global yang kurang kondusif.
“Bursa Asia Pasifik tertekan akibat kekhawatiran investor terhadap kebijakan tarif dagang AS di bawah Presiden Donald Trump, ditambah imbal hasil obligasi pemerintah Jepang yang mencapai level tertinggi sejak 2008,” ujar Valdy.
Ia menambahkan, pasar masih dalam fase normalisasi setelah volatilitas tinggi beberapa hari sebelumnya.
Tren Bursa Asia Pasifik
Di kawasan Asia Pasifik, bursa saham menunjukkan pergerakan bervariasi namun cenderung melemah.
Indeks Nikkei 225 di Jepang turun 0,7%, dipengaruhi oleh kenaikan imbal hasil obligasi jangka panjang.
Sementara itu, indeks CSI 300 di China sempat rebound 2,43% berkat penguatan sektor kesehatan dan konsumen, meski ekspor China pada Januari-Februari hanya tumbuh 2,3%, di bawah ekspektasi pasar sebesar 5%.
Di Australia, indeks ASX 200 menguat tipis 0,52% ke level 7.789,70, menjadi salah satu pengecualian di tengah tren pelemahan regional.
Indeks Straits Time Singapura turun 0,10% dan indeks Taiwan turun 0,75%.
Lalu bursa Hong Kong menjadi yang terparah pada perdagangan hari ini. Indeks Hang Seng turun 530,23 basis poin atau setara 2,19%.
Pelaku pasar global juga mencermati laporan ekonomi AS, termasuk Federal Reserve’s Beige Book dan data manufaktur yang mengindikasikan potensi gangguan akibat kebijakan tarif Trump.
Ancaman tarif 200% terhadap produk alkohol Uni Eropa sebagai respons atas tarif 50% pada wiski AS turut menambah ketidakpastian.
Faktor Penekan IHSG
Di dalam negeri, pelemahan IHSG diperparah oleh sentimen nilai tukar rupiah yang menembus Rp16.500 per dolar AS.
Sektor teknologi menjadi penyumbang koreksi terbesar dengan penurunan 12,71%, diikuti sektor energi (-1,04%), bahan baku (-1,05%), dan keuangan (-0,90%).
Namun, sektor konsumen primer berhasil mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,67%.
“Pelemahan ini juga dipicu oleh aksi jual investor asing yang masih berlangsung pasca-libur panjang pekan lalu,” kata pengamat pasar saham, Reza Priyambada.
Ia memprediksi IHSG berpotensi bergerak di kisaran support 6.246 dan resistance 6.698 pada perdagangan berikutnya.
Outlook dan Rekomendasi
Meski mengalami tekanan, beberapa analis tetap optimistis terhadap potensi rebound IHSG dalam jangka pendek.
Tim riset MNC Sekuritas merekomendasikan investor mencermati saham AKRA, BBRI, dan BRPT dengan strategi buy on weakness, serta GOTO untuk speculative buy.
Sementara itu, Phintraco Sekuritas menyoroti KLBF, JSMR, ASII, TAPG, dan RATU sebagai pilihan utama.
Pergerakan IHSG pada Jumat ini mencerminkan dinamika pasar yang dipengaruhi sentimen global dan domestik.
Investor disarankan untuk tetap memantau perkembangan kebijakan ekonomi AS, nilai tukar rupiah, serta data ekonomi regional guna mengantisipasi volatilitas pasar ke depan.***