JAKARTA – Betawi dikenal sebagai salah satu suku di Indonesia yang memiliki kekayaan budaya kuliner yang kuat, terutama dalam hal minuman tradisional. Di tengah perkembangan minuman modern, empat minuman khas Betawi ini masih bertahan dan menjadi bagian dari identitas budaya Jakarta. Mulai dari yang segar, manis, hingga hangat dan penuh rempah, semuanya memiliki cerita dan keunikan tersendiri.
Es Doger

Es doger merupakan salah satu minuman khas Betawi yang sangat populer sebagai pelepas dahaga, terutama saat cuaca panas. Minuman ini biasanya berisi campuran es serut, tape singkong, tape ketan hitam, kelapa muda, alpukat, dan bahan pelengkap lain seperti roti atau pacar cina, kemudian disiram dengan santan dan sirup manis berwarna merah. Rasanya kaya, manis, dan creamy.
Nama “doger” dipercaya berasal dari istilah “dorong gerobak”, karena dahulu penjualnya berkeliling menggunakan gerobak dorong. Es ini bukan hanya sekadar minuman, tetapi juga bagian dari sejarah jajanan kaki lima yang melekat di kehidupan masyarakat Betawi.
Bir Pletok

Meski namanya mengandung kata “bir”, bir pletok sama sekali tidak mengandung alkohol. Minuman ini justru dibuat dari campuran rempah-rempah seperti jahe, serai, daun pandan, dan kayu secang yang menghasilkan warna merah alami serta aroma hangat yang khas.
Bir pletok muncul sebagai bentuk adaptasi budaya masyarakat Betawi pada masa kolonial, ketika mereka ingin menciptakan minuman alternatif dari kebiasaan minum alkohol bangsa Eropa, tetapi tetap sesuai dengan nilai dan keyakinan lokal. Hingga kini, bir pletok sering disajikan hangat maupun dingin dan dipercaya memiliki manfaat untuk menghangatkan tubuh serta melancarkan peredaran darah.
Es Selendang Mayang

Es selendang mayang merupakan minuman tradisional yang tampilannya sangat menarik dengan lapisan warna-warni seperti hijau, merah muda, dan putih. Minuman ini dibuat dari adonan tepung sagu atau hunkwe yang memiliki tekstur kenyal seperti puding, kemudian disajikan dengan kuah santan dan sirup gula merah.
Minuman ini sudah dikenal sejak masa kolonial dan bahkan menjadi favorit berbagai kalangan di Batavia, termasuk masyarakat Belanda pada masa itu. Es selendang mayang juga melambangkan kekayaan rasa dan estetika kuliner Betawi yang unik.
Selain segar, minuman ini juga sering dianggap sebagai simbol jajanan tradisional yang mulai langka, meskipun masih bisa ditemukan di beberapa festival budaya dan kawasan wisata seperti Setu Babakan.
Es Goyang

Es goyang adalah es krim tradisional khas Betawi yang dibuat dengan cara unik. Dinamakan “goyang” karena proses pembuatannya dilakukan dengan menggoyangkan cetakan di dalam campuran es batu dan garam hingga membeku. Teknik ini menghasilkan tekstur es yang lembut dan khas.
Bahan dasarnya biasanya terdiri dari santan, gula, dan perisa seperti cokelat, kacang hijau, atau durian. Setelah membeku, es ini sering dilapisi cokelat atau meses untuk menambah rasa. Es goyang banyak dikenang sebagai jajanan masa kecil yang dijual keliling di lingkungan perkampungan Betawi.
Keempat minuman khas Betawi ini bukan hanya sekadar pelepas dahaga, tetapi juga bagian dari sejarah dan identitas budaya Jakarta. Dari es doger yang kaya rasa, bir pletok yang hangat dan menyehatkan, selendang mayang yang cantik dan lembut, hingga es goyang yang unik dan nostalgia, semuanya mencerminkan kreativitas masyarakat Betawi dalam mengolah bahan sederhana menjadi sajian istimewa.
Melestarikan minuman tradisional ini berarti menjaga warisan budaya agar tidak hilang ditelan zaman. Di tengah gempuran minuman modern, cita rasa Betawi tetap punya tempat istimewa di hati para penikmat kuliner Nusantara.