Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terperosok tajam hingga 8 persen pada perdagangan Kamis (29/1/2026). Kejatuhan ini memaksa Bursa Efek Indonesia (BEI) memberlakukan penghentian perdagangan sementara (trading halt) untuk hari kedua berturut-turut, menyusul tekanan jual masif di hampir seluruh sektor saham.
Di tengah guncangan pasar tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tetap menunjukkan keyakinan tinggi. Ia menilai pelemahan IHSG hanya bersifat sementara dan menegaskan target indeks menembus level 10.000 pada akhir tahun masih realistis.
“Optimistis 10.000. Enggak usah takut,” ujar Purbaya saat ditemui di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Menurutnya, tekanan pasar saat ini lebih dipicu oleh faktor teknis dan sentimen, bukan karena pelemahan fundamental ekonomi Indonesia.
Sentimen MSCI dan Goldman Sachs Picu Aksi Jual
Tekanan di pasar saham domestik bermula dari keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membekukan sementara rebalancing indeks saham Indonesia. MSCI menyoroti kurangnya transparansi struktur kepemilikan saham dan memberi peringatan potensi penurunan status Indonesia dari emerging market menjadi frontier market jika perbaikan tidak dilakukan hingga Mei 2026.
Situasi semakin memburuk setelah Goldman Sachs menurunkan peringkat saham Indonesia menjadi underweight. Bank investasi asal Amerika Serikat itu memperkirakan potensi arus dana keluar pasif mencapai 2,2 miliar hingga 7,8 miliar dolar AS.
Pada perdagangan Kamis pagi, IHSG tercatat merosot 665,89 poin atau 8 persen ke level 7.654,66. Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 694 saham melemah, hanya 34 saham menguat, dengan nilai transaksi mencapai Rp10,78 triliun. Secara akumulatif, pasar saham Indonesia telah terkoreksi lebih dari 15 persen dalam dua hari sejak pengumuman MSCI.
Menkeu Nilai Reaksi Pasar Berlebihan
Purbaya menilai reaksi pasar terhadap laporan awal MSCI terlalu berlebihan. Ia menyebut isu utama yang disorot MSCI berkaitan dengan transparansi dan praktik spekulatif atau “goreng-goreng saham” di bursa.
“Menurut saya IHSG jatuh karena berita MSCI yang menganggap kita kurang transparan dan banyak praktik goreng-gorengan saham. Ini reaksi yang berlebihan karena ini baru laporan pertama. Masih ada waktu eksekusi sampai bulan Mei,” tegasnya.
Ia memperkirakan volatilitas pasar hanya akan berlangsung dalam dua hingga tiga hari ke depan sebelum kembali stabil. Purbaya juga kembali mengingatkan pentingnya membersihkan pasar modal dari saham-saham yang tidak mencerminkan kinerja fundamental.
OJK dan Pemerintah Siapkan Reformasi
Merespons tekanan pasar, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar menyatakan pihaknya telah menyiapkan sejumlah langkah perbaikan. Salah satunya dengan menaikkan ketentuan minimum free float perusahaan tercatat menjadi 15 persen, sesuai permintaan MSCI.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai situasi ini justru bisa menjadi momentum penting untuk melakukan reformasi menyeluruh terhadap regulasi dan tata kelola pasar modal Indonesia.
Sementara itu, Maybank Sekuritas tetap mempertahankan target IHSG di level 9.250 hingga akhir 2026, dengan keyakinan tekanan akibat sentimen MSCI bersifat sementara dan tidak mencerminkan kondisi ekonomi nasional secara fundamental.