Badan Gizi Nasional (BGN) menindak tegas pengelola dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Batu Ketulis 1, Lampung Barat. Langkah penjatuhan sanksi pemberhentian sementara (suspend) ini diambil buntut dugaan keracunan makanan yang menimpa puluhan pelajar di wilayah Kecamatan Batu Ketulis.
Kepala Bagian Tata Usaha Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Lampung, Fitra Alfarisi, membenarkan penghentian aktivitas operasional dapur tersebut selama kurun waktu tertentu.
“Untuk wilayah Lampung Barat sudah resmi kita suspend. Kategori suspend sedang, yakni dihentikan operasinya sekitar 20 hari,” jelas Fitra saat memberikan konfirmasi, Senin (21/9/2026).
Insiden ini bermula usai para siswa menyantap hidangan MBG yang dibagikan pada Jumat (18/9/2026) dengan salah satu menu olahan siomay. Memasuki malam hari, sejumlah pelajar mulai mengeluhkan sakit perut hingga mengalami gejala diare.
Eskalasi kondisi tersebut membuat beberapa siswa harus mendapatkan perawatan medis pada Sabtu (19/9/2026) pagi, baik melalui skema rawat jalan maupun perawatan intensif di fasilitas kesehatan setempat.
Soroti Dugaan Kontaminasi Silang
Berdasarkan hasil investigasi awal yang dilakukan pihak BGN untuk menelusuri pemicu gangguan kesehatan tersebut, indikasi kuat mengarah pada kekeliruan prosedur pengolahan bahan baku.
“Dugaan awal mengarah pada terjadinya kontaminasi silang pada bahan pembuatan siomay,” ungkap Fitra.
Ia menggarisbawahi bahwa jenis makanan tertentu membutuhkan perhatian ekstra karena memiliki sifat rentan basi dan mudah tercemar. Oleh sebab itu, tahapan mulai dari penyimpanan, pengolahan, hingga proses penyajian tidak boleh dilakukan secara sembarangan.
Pascakejadian ini, BGN menginstruksikan seluruh jajaran SPPG di wilayah Lampung untuk memperketat standar kebersihan dan keamanan pangan (food safety). Fitra mewanti-wanti para koki dan penanggung jawab dapur agar senantiasa waspada saat mengolah bahan makanan berisiko tinggi.
“Kami mengimbau seluruh SPPG dan tim koki agar ekstra hati-hati ketika memasak menu yang cepat basi karena sangat rawan terjadi kontaminasi silang. Intinya, sanitasi di setiap area dapur harus dijaga secara ketat,” pukas Fitra.