JAKARTA – Situasi keamanan di Kamerun mereda setelah kelompok separatis di wilayah berbahasa Inggris mengumumkan penghentian sementara aksi bersenjata menjelang kunjungan Paus Leo XIV.
Keputusan ini menjadi sorotan karena konflik di kawasan Anglophone Kamerun telah berlangsung hampir satu dekade dengan dampak kemanusiaan yang luas dan kompleks.
Langkah tersebut dinilai sebagai momentum langka yang membuka peluang terciptanya suasana kondusif di tengah ketegangan yang selama ini sulit diredam.
Aliansi kelompok separatis yang tergabung dalam Unity Alliance menyatakan penghentian permusuhan akan dilakukan dalam waktu terbatas sebagai bentuk penghormatan terhadap agenda kunjungan pemimpin Gereja Katolik dunia tersebut.
Kunjungan Paus Leo XIV dijadwalkan dimulai di ibu kota Yaoundé pada 15 April waktu setempat sebelum melanjutkan perjalanan ke Bamenda, pusat wilayah Anglophone yang selama ini menjadi episentrum konflik.
Di Bamenda, Paus Leo XIV direncanakan memimpin pertemuan bertema perdamaian yang diharapkan mampu mendorong dialog dan rekonsiliasi di antara pihak-pihak yang bertikai.
Konflik di wilayah barat laut dan barat daya Kamerun sendiri berakar dari tuntutan kelompok separatis yang menginginkan pembentukan negara merdeka bernama Ambazonia.
Pertikaian tersebut telah menyebabkan jutaan warga terdampak, mulai dari pengungsian massal hingga krisis kemanusiaan yang berkepanjangan.
Dalam pernyataan resminya, Unity Alliance menegaskan bahwa keputusan ini didasari oleh tanggung jawab moral serta penghormatan terhadap nilai kemanusiaan.
“Langkah ini mencerminkan sikap menahan diri dan menghormati martabat manusia, sekaligus menciptakan ruang aman bagi kunjungan Paus,” demikian kutipan pernyataan kelompok tersebut, dikutip dari Vatican News, Rabu.
Mereka juga menambahkan bahwa penghentian sementara ini bertujuan memastikan seluruh rangkaian kegiatan keagamaan dapat berlangsung tanpa gangguan.
Pengamat menilai kebijakan ini, meski bersifat sementara, berpotensi menjadi pintu masuk bagi upaya perdamaian jangka panjang jika dimanfaatkan secara maksimal oleh semua pihak.
Namun demikian, tantangan besar masih membayangi mengingat akar konflik yang kompleks dan kepentingan politik yang saling bertabrakan.
Kunjungan Paus Leo XIV sendiri dinilai bukan hanya sebagai agenda keagamaan, tetapi juga membawa pesan kuat terkait pentingnya dialog, rekonsiliasi, dan kemanusiaan di kawasan konflik.***