Sebanyak 250 orang, termasuk anak-anak, dilaporkan hilang setelah kapal nelayan yang mereka tumpangi karam di Laut Andaman pekan lalu. Kapal yang berangkat dari Bangladesh menuju Malaysia tersebut diduga tenggelam akibat cuaca ekstrem, ombak besar, dan kelebihan muatan.
Berdasarkan laporan badan pengungsi dan migrasi PBB, tragedi ini bermula saat kapal terjebak badai hebat sekitar tanggal 7 atau 8 April 2026. Para korban terombang-ambing di tengah laut selama dua hari hanya dengan berpegangan pada drum plastik dan serpihan kayu.
Penyelamatan Dramatis di Tengah Malam
Pada 11 April pukul 02.00 dini hari, awak kapal tanker Meghna Pride yang sedang berlayar menuju Indonesia menemukan sembilan orang yang selamat. Rafiqul Islam (40), salah satu penyintas, mengisahkan bagaimana ia bertahan selama 36 jam di laut sambil menahan luka bakar akibat tumpahan minyak kapal.
“Janji pekerjaan di Malaysia yang membuat saya nekat naik ke kapal itu,” ujar Rafiqul pedih. Sembilan penyintas tersebut kemudian diserahkan kepada penjaga pantai Bangladesh, namun nasib ratusan penumpang lainnya hingga kini masih menjadi misteri tak berjejak.
Mengapa Mereka Nekat?
Bagi etnis Rohingya yang tidak diakui kewarganegaraannya di Myanmar, hidup adalah rangkaian pelarian. Sejak tindakan keras militer tahun 2017, ratusan ribu dari mereka memadati kamp-kamp pengungsian di Bangladesh. Namun, kondisi kamp yang memprihatinkan dan bantuan kemanusiaan yang terus menyusut memaksa mereka mengambil risiko fatal.
“Orang-orang mati karena pertempuran, mati karena kelaparan. Jadi beberapa berpikir lebih baik mati di laut daripada mati perlahan di sini,” ungkap seorang pengungsi di Cox’s Bazar.
Malaysia dan Indonesia sering kali dipandang sebagai “surga” bagi para pengungsi ini. Namun, kenyataannya tidak selalu manis. Seringkali, kapal-kapal yang sudah mendekati daratan diusir kembali ke laut lepas oleh otoritas setempat maupun komunitas lokal. Pada Januari 2025 lalu, Malaysia sempat memulangkan dua kapal yang membawa 300 pengungsi setelah hanya memberi mereka makanan dan air.
Pihak UNHCR dan IOM menegaskan bahwa tragedi ini adalah cermin dari tidak adanya solusi jangka panjang bagi masalah etnis Rohingya. Selama kekerasan di negara bagian Rakhine masih berlanjut, perjalanan maut seperti ini akan terus berulang. PBB mendesak komunitas internasional untuk tidak menghentikan pendanaan bantuan dan segera mencari solusi akar masalah agar pengungsi bisa pulang dengan martabat dan rasa aman.