JKARTA – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) telah menuntaskan pengerukan Muara Batang Kuranji sepanjang sekitar 550 meter. Proyek tersebut diyakini akan meningkatkan kapasitas aliran sungai menuju laut sekaligus mengurangi potensi banjir saat curah hujan tinggi maupun ketika air laut pasang.
Pengerjaan yang dilaksanakan melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) V Padang itu telah mencapai progres 100 persen. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi pemulihan fungsi sungai pascabencana sekaligus memperkuat sistem pengelolaan sumber daya air di wilayah pesisir Kota Padang.
Normalisasi muara dilakukan karena pendangkalan selama ini dinilai menghambat aliran sungai menuju laut. Kondisi tersebut berpotensi memicu luapan air ke kawasan permukiman ketika debit sungai meningkat akibat hujan deras.
Selain memperlancar aliran air, pengerukan juga bertujuan menjaga fungsi pintu air sehingga jaringan irigasi tetap dapat melayani kebutuhan masyarakat. Langkah ini sekaligus mengantisipasi fenomena *waterback* atau aliran balik air dari laut ke sungai yang kerap terjadi saat pasang.
“Perbaikan jalan tentu akan sia-sia jika drainase tersumbat dan muara mengalami pendangkalan yang memicu banjir rob atau genangan saat hujan. Kalau muaranya terbuka lebar dan air mengalir deras, sedimen akan terbuang ke laut sehingga kapasitas aliran tetap terjaga,” ujar Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur darat harus diimbangi dengan sistem drainase dan sungai yang berfungsi optimal agar manfaat pembangunan dapat dirasakan masyarakat secara maksimal.
Didanai Rp2,7 Miliar
Proyek pengerukan Muara Batang Kuranji dikerjakan secara swakelola menggunakan anggaran operasi dan pemeliharaan tahun 2026 sebesar Rp2,7 miliar. Pendanaan tersebut difokuskan untuk mengembalikan kapasitas sungai agar mampu mengalirkan debit air secara lebih optimal.
Kementerian PU mencatat, hingga Juni 2026 terdapat 38 muara di Pulau Sumatra yang terdampak bencana dan memerlukan penanganan. Dari jumlah tersebut, tujuh muara telah selesai dinormalisasi, sementara empat muara lainnya masih dalam proses pekerjaan dengan target rampung pada Oktober 2027.
Data tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya berfokus pada satu lokasi, melainkan menjalankan program pemulihan secara bertahap di berbagai daerah yang memiliki tingkat kerawanan banjir akibat sedimentasi dan kerusakan muara.
Satgas Kuala Dipercepat
Untuk mempercepat penanganan kawasan muara yang terdampak bencana, pemerintah telah menyiapkan strategi khusus melalui pembentukan Satuan Tugas (Satgas Kuala). Tim ini diharapkan mampu mempercepat proses rehabilitasi sekaligus memperkuat koordinasi lintas instansi dalam pemulihan wilayah terdampak, terutama di Pulau Sumatra.
Keberadaan Satgas Kuala menjadi bagian dari langkah pemerintah dalam mempercepat normalisasi muara sehingga fungsi sungai dapat segera pulih dan risiko bencana hidrometeorologi dapat ditekan.
Dengan rampungnya pengerukan Muara Batang Kuranji, kapasitas tampung dan aliran sungai kini meningkat sehingga air dapat mengalir lebih lancar menuju laut. Kondisi tersebut diharapkan mampu mengurangi potensi genangan di kawasan sekitar sungai ketika terjadi hujan dengan intensitas hujan yang tinggi.
Program normalisasi ini juga menjadi bagian dari komitmen Kementerian PU dalam memperkuat infrastruktur sumber daya air, menjaga keberlanjutan sistem irigasi, serta meningkatkan perlindungan masyarakat dari ancaman banjir yang selama ini menjadi salah satu persoalan utama di Kota Padang.