JAKARTA – Amerika Serikat mengeluarkan peringatan perjalanan global bagi seluruh warganya di luar negeri setelah konflik dengan Iran kembali memanas.
Departemen Luar Negeri AS menyebut situasi keamanan di Timur Tengah semakin tidak menentu dengan potensi eskalasi yang sulit diprediksi.
Pemerintah AS memperingatkan kelompok yang mendukung Iran berpotensi mengincar warga negara, fasilitas, dan kepentingan Amerika di berbagai negara.
Peringatan “Worldwide Caution” diterbitkan setelah bentrokan militer antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat dalam beberapa hari terakhir.
Militer AS melaporkan serangan rudal dan drone Iran di Yordania menewaskan dua personel militer Amerika serta menyebabkan satu lainnya hilang.
Departemen Luar Negeri meminta seluruh warga AS, terutama yang berada di Timur Tengah, meningkatkan kewaspadaan setiap saat.
Warga juga diminta mengikuti informasi keamanan terbaru dari kedutaan besar maupun konsulat Amerika Serikat di negara masing-masing.
“Akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, situasi keamanan kini semakin rumit dengan potensi eskalasi yang tidak dapat diperkirakan,” dikutip dari Newsweek, Minggu.
Meski belum memerintahkan evakuasi maupun melarang perjalanan internasional, pemerintah AS mengingatkan risiko gangguan transportasi terus meningkat.
Maskapai penerbangan diperkirakan menghadapi pembatalan jadwal dan penutupan ruang udara secara berkala akibat aktivitas militer.
Kondisi tersebut membuat perjalanan udara menuju maupun melintasi kawasan Timur Tengah semakin berisiko.
Serangan di Yordania juga melukai empat personel militer Amerika lainnya yang telah mendapatkan perawatan sebelum dipulangkan.
Dengan insiden terbaru itu, korban tewas militer AS dalam konflik tersebut mencapai 16 orang, sedangkan lebih dari 420 personel mengalami luka-luka.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth memberikan penghormatan kepada para korban melalui media sosial X.
“Selamat jalan para pahlawan. Pengorbanan mereka semakin menguatkan tekad kami.”
Di sisi lain, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei memperingatkan Washington agar tidak terus meningkatkan konflik.
Menurutnya, Iran dan Front Perlawanan telah menyiapkan balasan yang akan menjadi pelajaran bagi Amerika Serikat.
“Kini ketika musuh Amerika berupaya memperbesar konflik hingga menimbulkan biaya dan kehinaan yang lebih besar, mereka harus tahu Iran dan Front Perlawanan telah menyiapkan pelajaran yang tak terlupakan.”
Ketegangan semakin meluas setelah gencatan senjata sementara antara Washington dan Teheran gagal dipertahankan.
Operasi militer terbaru dilaporkan berdampak pada Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, dan Yordania.
Kuwait mengonfirmasi berhasil mencegat rudal dan drone Iran yang memasuki wilayahnya.
Arab Saudi juga mengaktifkan sistem peringatan dini serta meminta warga di sejumlah wilayah segera berlindung.
Departemen Luar Negeri AS menyebut sejumlah fasilitas diplomatik Amerika, termasuk di luar Timur Tengah, turut menjadi sasaran ancaman.
Gelombang kekerasan terbaru dipicu gagalnya nota kesepahaman sementara yang sebelumnya bertujuan menghentikan operasi militer.
Kesepakatan itu juga diharapkan membuka negosiasi mengenai program nuklir Iran, pencabutan sanksi, dan keamanan kawasan.
Namun kedua negara saling menuding telah melanggar perjanjian sehingga aksi militer kembali meningkat.
Konflik tersebut juga memengaruhi jalur pelayaran komersial yang kembali menjadi sasaran serangan di kawasan.***