JAKARTA β Kabar mengejutkan datang dari dunia bulutangkis internasional setelah Viktor Axelsen resmi mengumumkan pensiun dari level profesional pada 15 April 2026 akibat kondisi fisik yang tak lagi memungkinkan tampil kompetitif.
Keputusan besar ini diambil setelah pebulu tangkis asal Denmark tersebut mengalami keterbatasan serius pasca operasi punggung yang dijalaninya pada April 2025 sehingga berdampak langsung pada performa dan intensitas latihannya.
Dalam pernyataan resminya, Axelsen mengungkapkan pergulatan emosional yang ia rasakan sebelum akhirnya menerima kenyataan bahwa tubuhnya tak lagi mampu mendukung ambisinya di level tertinggi.
βIni bukan hari yang mudah bagi saya, karena kondisi punggung yang terus berulang membuat saya tidak lagi bisa bersaing secara maksimal,β ujar Axelsen dikutip dari laman BWF, Rabu.
Axelsen menutup kariernya sebagai salah satu pemain tunggal putra paling sukses sepanjang sejarah dengan koleksi dua medali emas Olimpiade di Olimpiade Tokyo 2020 dan Olimpiade Paris 2024 serta tambahan perunggu di Olimpiade Rio 2016.
Prestasi gemilangnya juga tercatat melalui dua gelar juara dunia yang diraih pada tahun 2017 dan 2022 yang semakin mengukuhkan statusnya sebagai ikon bulu tangkis modern.
Dominasi Axelsen di ranking dunia pun tak terbantahkan setelah ia mencatat lebih dari 100 pekan berturut-turut sebagai nomor satu dunia, hanya kalah dari rekor total milik Lee Chong Wei.
Konsistensi luar biasanya turut tercermin di ajang penutup musim BWF World Tour Finals dengan tiga gelar beruntun dari 2021 hingga 2023 serta total lima trofi sepanjang kariernya.
Tak hanya itu, Axelsen juga mengoleksi 10 gelar Super 1000 yang menjadi bukti dominasi di level elite bulutangkis dunia.
Perjalanan kariernya diwarnai tekad kuat sejak awal, di mana ia mengaku telah mencurahkan seluruh hidupnya demi meraih status pemain terbaik dunia.
βSaya selalu bermimpi menjadi yang terbaik sejak pertama kali memegang raket dan saya telah memberikan segalanya untuk olahraga ini,β ungkapnya.
Dengan tinggi badan mencapai 1,94 meter, Axelsen dikenal sebagai sosok yang mengubah standar fisik tunggal putra melalui kombinasi kekuatan, jangkauan luas, dan kontrol permainan yang matang, bahkan mampu menantang dominasi era pemain seperti Lin Dan.
Pengaruhnya tak hanya terasa di lapangan, tetapi juga secara global setelah ia mempelajari bahasa Mandarin demi mendekatkan diri dengan penggemar Asia serta membangun pusat latihan independen di Dubai.
Langkah tersebut turut membantu perkembangan sejumlah pemain muda dunia seperti Lakshya Sen, Brian Yang, dan Loh Kean Yew.
Axelsen mengakui bahwa momen tersulit dalam pensiun bukanlah meninggalkan kompetisi, melainkan seluruh perjalanan, rutinitas, dan orang-orang yang menjadi bagian dari hidupnya selama ini.
βSaya telah meraih lebih dari yang pernah saya impikan, namun yang paling berat adalah meninggalkan perjalanan dan orang-orang di dalamnya,β tuturnya.
Ia juga menyampaikan rasa terima kasih mendalam kepada para penggemar yang selalu memberikan dukungan dari berbagai penjuru dunia sepanjang kariernya.
Meski resmi gantung raket, Axelsen memastikan dirinya tidak benar-benar meninggalkan bulu tangkis dan akan tetap terhubung dengan olahraga yang telah membesarkan namanya tersebut.
βSaya mungkin pensiun sebagai pemain, tetapi tidak dengan bulutangkis karena olahraga ini telah memberi saya segalanya,β tegasnya.***