Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) melakukan terobosan radikal dalam metode pembinaan pemerintah daerah (pemda). Mendagri Tito Karnavian mengumumkan alokasi anggaran fantastis sebesar Rp1 triliun yang dikhususkan sebagai dana insentif fiskal bagi daerah-daerah yang menunjukkan prestasi kerja unggul sepanjang tahun ini.
Langkah berani ini diambil untuk menyelaraskan arah pembangunan daerah dengan visi Astacita Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam menciptakan tata kelola pemerintahan yang efektif, responsif, serta penguatan ekonomi yang inklusif di akar rumput.
Dalam sambutannya, Mendagri Tito Karnavian secara blak-blakan menceritakan transformasi paradigma pengawasan yang ia pimpin. Selama ini, Kemendagri dinilai terlalu sering menggunakan instrumen hukuman (stick) dalam mengontrol daerah, seperti evaluasi ketat APBD, penundaan pergantian pejabat, hingga pemeriksaan hukum.
“Jadi selama ini lebih banyak memberikan stick, Pak. Kemudian kami berpikir kalau stick terus, kita nanti dimusuhin sama teman-teman daerah. Kita berpikir bagaimana cara memberikan reward, carrot-nya, wortelnya,” ujar Tito bernada kelakar.
Tito juga menambahkan bahwa penghargaan konvensional berupa piala dan piagam sudah tidak lagi efektif memicu semangat kompetisi yang nyata.
“Selama ini memang yang kita berikan adalah tropi biasanya, Pak. Kemudian sertifikat. Tapi saya paham bahwa yang lebih nendang itu adalah kalau diberikan kata Pak Arak, hepeng (uang), Pak. Kalau hepeng itu lebih powerful,” tambahnya disambut tawa hadirin.
Suntikan dana segar dari insentif fiskal ini diharapkan tidak menjadi pajangan, melainkan langsung menyentuh program prioritas kerakyatan. Adapun indikator penilaian utama pemda yang berhak mendapatkan porsi dari dana Rp1 triliun ini meliputi keberhasilan nyata dalam:
-
Penurunan angka pengangguran wilayah.
-
Penanggulangan kemiskinan ekstrem dan penurunan angka stunting.
-
Skema pembiayaan kreatif (creative financing).
-
Keberhasilan pengendalian inflasi daerah.