JAKARTA – Dalam beberapa tahun terakhir, tarot mengalami kebangkitan popularitas yang signifikan, terutama di kalangan Generasi Z.
Jika dahulu tarot identik dengan praktik mistis yang eksklusif, kini ia hadir secara masif di media sosial seperti TikTok dan Instagram.
Fenomena ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan hasil dari kombinasi faktor psikologis, sosial, dan teknologi yang membentuk cara pandang Gen Z terhadap spiritualitas dan pencarian makna hidup.
1. Media Sosial Membuat Tarot Lebih Aksesibel dan Viral
Peran media sosial, khususnya TikTok, sangat besar dalam mendorong popularitas tarot.
Konten tarot kini dikemas dalam format video singkat yang mudah dikonsumsi, interaktif, dan relatable.
Hashtag seperti #tarot telah digunakan dalam jutaan unggahan, menunjukkan tingginya partisipasi pengguna dalam tren ini
Tarot tidak lagi dianggap sebagai praktik yang rumit. Sebaliknya, ia menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari seperti “scrolling” di media sosial.
Banyak pengguna Gen Z menganggap tarot sebagai bentuk “check-in” emosional cepat sebuah cara sederhana untuk merenungkan perasaan atau situasi hidup tanpa komitmen besar
Selain itu, algoritma media sosial memperkuat fenomena ini.
Konten yang sering ditonton akan terus muncul di beranda pengguna, menciptakan ilusi bahwa pesan tarot “ditujukan khusus” untuk mereka.
Hal ini memperkuat kepercayaan dan keterlibatan pengguna terhadap konten tersebut.
2. Tarot Sebagai Alat Self-Reflection dan Mindfulness
Berbeda dari generasi sebelumnya yang melihat tarot sebagai alat ramalan masa depan, Gen Z lebih memanfaatkannya sebagai sarana refleksi diri.
Tarot menjadi bagian dari praktik mindfulness membantu individu berhenti sejenak dari hiruk-pikuk digital dan merenungkan kondisi emosional mereka.
Dalam konteks ini, tarot tidak selalu dipercaya secara literal. Banyak pengguna menggunakannya sebagai “alat bantu berpikir” untuk memahami perasaan, membuat keputusan, atau mencari perspektif baru.
Studi menunjukkan bahwa lebih dari setengah Gen Z pernah terlibat dalam praktik spiritual seperti tarot atau astrologi, dengan motivasi utama adalah pencarian makna dan ketenangan batin.
3. Pencarian Identitas dan Makna Hidup
Gen Z dikenal sebagai generasi yang sangat reflektif dan terbuka terhadap eksplorasi identitas.
Dalam dunia yang penuh ketidakpastian mulai dari pandemi, krisis ekonomi, hingga perubahan sosial banyak anak muda mencari pegangan yang memberi rasa kontrol dan arah hidup.
Tarot hadir sebagai salah satu jawaban. Ia menawarkan narasi simbolik yang fleksibel dan personal, sehingga setiap individu bisa menafsirkan maknanya sesuai pengalaman masing-masing.
Hal ini memberikan rasa “koneksi personal” yang seringkali tidak ditemukan dalam sistem kepercayaan tradisional.
Selain itu, meningkatnya minat terhadap self-improvement dan healing juga mendorong Gen Z untuk mengeksplorasi praktik spiritual.
Tarot menjadi bagian dari perjalanan tersebut, bersama dengan meditasi, journaling, dan terapi emosional.
4. Pengaruh Komunitas dan Budaya Digital
Media sosial tidak hanya menyebarkan konten, tetapi juga membentuk komunitas.
Di TikTok dan Instagram, terdapat komunitas besar yang membahas tarot, berbagi pengalaman, hingga memberikan “collective readings” yang ditujukan untuk banyak orang sekaligus.
Interaksi ini menciptakan rasa kebersamaan dan validasi sosial. Ketika seseorang merasa “relate” dengan sebuah reading, lalu melihat orang lain merasakan hal yang sama, kepercayaan terhadap tarot semakin kuat.
Fenomena ini juga didukung oleh munculnya “spiritual influencers” yang mengemas tarot dengan gaya modern dan estetis.
Mereka tidak hanya membacakan kartu, tetapi juga membangun narasi yang emosional dan mudah dipahami oleh audiens muda.
5. Faktor Psikologis: Efek Barnum dan Konfirmasi Diri
Dari sudut pandang psikologi, kepercayaan terhadap tarot juga dapat dijelaskan melalui Barnum Effect kecenderungan manusia untuk menganggap deskripsi umum sebagai sesuatu yang sangat personal.
Pesan tarot yang bersifat luas dan ambigu memungkinkan setiap orang merasa “terkena” secara spesifik
Selain itu, adanya bias konfirmasi membuat individu lebih mudah menerima informasi yang sesuai dengan keyakinan atau kondisi emosional mereka.
Ketika tarot “sejalan” dengan apa yang mereka rasakan, kepercayaan terhadapnya semakin meningkat.
6. Tarot Sebagai Alternatif Dukungan Emosional
Bagi sebagian Gen Z, tarot juga berfungsi sebagai bentuk dukungan emosional yang mudah diakses.
Di tengah mahalnya layanan kesehatan mental atau stigma terhadap terapi, tarot menjadi alternatif yang lebih cepat, murah, dan terasa personal.
Walaupun tidak dapat menggantikan bantuan profesional, tarot sering dianggap sebagai cara awal untuk memahami diri sendiri atau mencari ketenangan sementara.
Dalam banyak kasus, ia berfungsi sebagai “teman digital” yang memberikan rasa didengar dan dipahami.
Fenomena meningkatnya kepercayaan Gen Z terhadap tarot di media sosial merupakan hasil dari interaksi kompleks antara teknologi, psikologi, dan kebutuhan emosional.
Media sosial membuat tarot mudah diakses dan viral, sementara kebutuhan akan refleksi diri, makna hidup, dan koneksi emosional membuat praktik ini semakin relevan.
Namun, penting untuk memahami bahwa tarot lebih tepat dilihat sebagai alat refleksi, bukan kebenaran absolut.
Dengan pendekatan yang kritis dan seimbang, tarot dapat menjadi salah satu cara bagi Gen Z untuk mengenal diri mereka di tengah dunia yang semakin cepat dan penuh ketidakpastian. (FB)