JAKARTA – Konflik Iran-Israel yang memicu ketegangan geopolitik di Timur Tengah memasuki babak baru.
Hal ini terjadi setelah Amerika Serikat melancarkan serangan ke fasilitas nuklir Iran, Parlemen Iran menyetujui langkah awal penutupan Selat Hormuz—salah satu jalur pelayaran energi paling vital di dunia.
Langkah ini, meskipun belum resmi diberlakukan, kini berada di tangan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran dan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Potensi blokade Selat Hormuz langsung memicu kekhawatiran global. Jalur ini bukan hanya penting bagi Iran, tetapi juga menjadi urat nadi distribusi minyak dan gas dunia—terutama menuju Asia, termasuk Tiongkok yang merupakan konsumen energi terbesar secara global.
Jika Selat ini ditutup, dunia bisa menghadapi krisis energi yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam beberapa dekade terakhir.
Titik Kritis bagi Perdagangan Energi Internasional
Mengutip SCMP, Selat Hormuz membentang selebar sekitar 33 kilometer, menghubungkan Teluk Persia dan Teluk Oman.
Setiap hari, hampir seperlima minyak global mengalir melewati selat ini.
Data dari Badan Informasi Energi Amerika Serikat menunjukkan bahwa pada tahun 2024, sekitar 84 persen dari minyak mentah dan kondensat yang melewati Selat Hormuz dikirimkan ke pasar Asia.
Selain Tiongkok yang paling terdampak, juga tiga negara lainnya yang bakal merasakan dampaknya yakni India, Jepang, dan Korea Selatan yang merupakan tujuan utama.
Bagi Tiongkok, yang telah menjadi importir minyak terbesar dunia sejak 2017, potensi gangguan ini bukan hanya isu energi, tetapi juga persoalan ekonomi nasional.
Sekitar 50 persen dari kebutuhan minyak Tiongkok berasal dari kawasan Timur Tengah.
Jika Selat Hormuz diblokade, efek domino bisa langsung terasa dalam pasokan industri dan stabilitas ekonomi.
Belum Pernah Ditutup Sepenuhnya, Tapi Riwayat Gangguan Panjang
Sepanjang sejarah, Selat Hormuz belum pernah mengalami penutupan total, namun sering kali menjadi titik konflik.
Dari era Perang Iran-Irak di tahun 1980-an hingga ketegangan antara angkatan laut Iran dan Amerika Serikat pada 2007, serta insiden penyitaan kapal tanker oleh Iran pada 2023, kawasan ini telah beberapa kali nyaris memicu krisis global.
Meskipun demikian, dampak dari potensi gangguan kali ini dinilai lebih luas dan berat.
Mengingat skala ketegangan saat ini serta keterlibatan kekuatan besar dunia, termasuk AS dan Iran, para analis memperingatkan bahwa dampak terhadap pasar global bisa sangat parah jika blokade benar-benar diberlakukan.
Harga Energi Dunia Melejit Tajam
Dalam laporan terbaru, Goldman Sachs memperingatkan bahwa gangguan besar dan berkepanjangan di Selat Hormuz bisa mendorong harga minyak dunia di atas US$110 per barel dan harga gas di Eropa lebih dari €100 per megawatt-jam.
Para ekonom menekankan bahwa meskipun berbagai pihak punya insentif ekonomi untuk menghindari konflik lebih luas, situasi tetap sangat rawan.
“Meskipun situasi di Timur Tengah masih berubah-ubah, kami berpikir bahwa insentif ekonomi, termasuk bagi AS dan Tiongkok, untuk mencegah gangguan besar dan berkelanjutan di Selat Hormuz akan sangat kuat,” tulis para analis Goldman Sachs dalam catatan mereka.
George Saravelos dari Deutsche Bank menilai bahwa jika pasokan minyak Iran terhenti total dan selat ditutup, harga minyak bisa melonjak di atas US$120 per barel. Sementara itu, CEO deVere Group, Nigel Green, menyatakan bahwa lonjakan harga minyak hingga US$130 dapat memicu inflasi global yang lebih parah dan menggagalkan ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh bank-bank sentral, termasuk The Fed.
“Kenaikan harga seperti itu akan memengaruhi inflasi global, yang tetap tinggi dan/atau sulit dikendalikan di banyak wilayah,” ujar Green. “Pelaku pasar telah memperkirakan pemotongan suku bunga dari bank sentral, termasuk Federal Reserve, pada paruh kedua tahun ini. Itu sekarang dipertanyakan.”
Dunia Menanti Keputusan Iran
Blokade Selat Hormuz bukan hanya urusan regional, tapi menjadi ancaman nyata bagi stabilitas ekonomi global.
Ketergantungan tinggi dunia—khususnya Asia—pada jalur energi ini membuat setiap keputusan yang diambil Iran akan menjadi titik balik penting bagi pasar global.
Dunia kini menunggu, dengan napas tertahan, apakah jalur hidup energi dunia akan tetap terbuka atau tertutup rapat.***
