JAKARTA – Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menekankan pentingnya pelindungan anak dalam ekosistem industri gim nasional. Ia menyoroti perlunya penundaan akses terhadap konten yang tidak sesuai usia, terutama gim dengan unsur kekerasan atau tngkat adiktivitas tinggi.
“Kita ingin industri gim di Indonesia terus tumbuh secara sehat, tetapi pada saat yang sama, kami juga menerima banyak sekali keluhan dari para orang tua tentang konten-konten yang tidak sesuai untuk anak-anak,” ujar Meutya dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Minggu (6/7/2025).
Pernyataan tersebut disampaikan saat Meutya membuka forum Indonesian Woman In Game (IWIG) BeautyPlayConnect di Bandung, Sabtu (5/7), yang dihadiri oleh para pengembang gim perempuan dari berbagai daerah.
Sebagai langkah konkret, pemerintah telah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP TUNAS). Regulasi ini mewajibkan setiap penyelenggara sistem elektronik (PSE), termasuk pengembang dan penerbit gim, untuk menerapkan klasifikasi usia secara ketat.
“Kami tidak melarang gim, tetapi kami menunda akses konten kepada pengguna yang belum cukup usia. Ini bukan soal sensor, tapi soal tanggung jawab bersama dalam menciptakan ruang digital yang aman dan sehat,” tambahnya, dilansir dari Antara.
Meutya menjelaskan bahwa gim dengan tingkat kekerasan atau adiktivitas tinggi hanya dapat diakses oleh pengguna berusia minimal 16 tahun dengan pendampingan orang tua, dan secara mandiri setelah usia 18 tahun.
Ia juga menyoroti pentingnya penerapan sistem rating konten melalui Indonesia Game Rating System (IGRS), yang memberikan panduan bagi orang tua, pemain, dan pelaku industri untuk mengenali konten yang sesuai dengan usia dan tahap perkembangan anak.
“IGRS bukan hanya alat bantu untuk orang tua, tapi juga pelindung bagi industri. Dengan menerapkan klasifikasi usia secara jujur, pengembang dan penerbit bisa menghindari risiko pelanggaran hukum,” jelas Meutya.
Ia menambahkan bahwa tuntutan terhadap industri gim untuk bertanggung jawab kini menjadi tren global, dan Indonesia perlu menyiapkan regulasi yang adil serta tegas.
Dalam kesempatan tersebut, Meutya juga menjajal sejumlah gim karya para pengembang perempuan. “Saya senang melihat semakin banyak perempuan hadir sebagai pembuat teknologi, bukan sekadar pengguna,” katanya.