SUMUT – Kapolsek Belawan, AKP Ponijo jadi korban penyerangan oleh para pelaku tawuran antarwarga di Belawan, Medan. Polisi berhasil meringkus sembilan pelaku yang kini diamankan untuk proses hukum.
Kronologi Bentrokan di Jantung Belawan
Kericuhan bermula dari adu fisik antara dua kelompok pemuda dari Kelurahan Belawan I dan Lingkungan 13 Selebes, Kelurahan Belawan II. Konflik yang awalnya terjadi di Jalan Stasiun merembet hingga ke Tol Belmera, sekitar dua kilometer dari lokasi awal.
“Nah, aksi saling serang ini kemudian merembet hingga ke ruas Tol Belmera, sekitar dua kilometer dari gerbang tol,” ujar Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol Ferry Walintukan, Senin, 5 Mei 2025.
Saat AKP Ponijo dan tim tiba untuk meredakan situasi, mereka dihadang sekitar 10 pemuda bersenjatakan parang panjang dan kelewang. Massa yang kalap tak hanya mengancam, tetapi juga menyerang mobil dinas kapolsek. Dalam kondisi terdesak, petugas terpaksa mengambil tindakan tegas, yang sayangnya berujung pada dua remaja tertembak.
Tindakan Polisi: Heroik atau Kontroversial?
Kapolda Sumut, Irjen Whisnu Hermawan, membela langkah anak buahnya. Menurutnya, situasi darurat dan ancaman nyata terhadap petugas memaksa mereka bertindak cepat.
Namun, pengamat keamanan Bambang menegaskan pentingnya transparansi. “Diskresi itu bukan klaim sepihak, tapi harus bisa dipertanggungjawabkan lewat pemeriksaan yang komprehensif,” katanya kepada
Sembilan Pelaku Diringkus, Penyelidikan Berlanjut
Polda Sumut bergerak sigap usai insiden. Sembilan pemuda yang diduga terlibat dalam tawuran dan penyerangan terhadap kapolsek kini berada di balik jeruji. Polisi masih mendalami motif di balik aksi brutal ini, termasuk kemungkinan adanya provokasi atau konflik lama antar kelompok.
Kabid Humas Polda Sumut juga mengimbau masyarakat untuk menahan diri dan tidak terprovokasi.
“Kami mengedepankan pendekatan preventif, tetapi jika ada ancaman nyata, kami akan bertindak tegas,” tegas Ferry.
Belawan dalam Sorotan: Apa Akar Masalahnya?
Tawuran di Belawan bukanlah hal baru. Wilayah ini kerap menjadi panggung konflik antar kelompok pemuda, yang sering kali dipicu oleh masalah sepele seperti persaingan wilayah atau kesalahpahaman. Insiden ini menambah daftar panjang tantangan keamanan di kawasan pelabuhan strategis tersebut.
Warga setempat berharap ada solusi jangka panjang, seperti mediasi antar kelompok, peningkatan patroli, hingga program pembinaan pemuda.
“Kami ingin Belawan aman. Anak-anak muda ini butuh arahan, bukan cuma hukuman,” ujar seorang warga yang enggan disebut namanya.
Langkah ke Depan: Mencegah Tragedi Berulang
Kasus ini menjadi pengingat bahwa keamanan publik memerlukan kerja sama semua pihak. Polisi, pemerintah daerah, dan masyarakat diminta bersinergi untuk mencegah tawuran serupa. Sementara penyelidikan berlangsung, Belawan kini berada di bawah pengawasan ketat aparat untuk memastikan situasi tetap kondusif.