Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi meluruskan simpang siur informasi mengenai kondisi KMP Virgo Transport 08 yang mengalami musibah di Perairan Kalimantan Selatan. Menhub memastikan bahwa kapal motor penumpang tersebut tidak tenggelam ke dasar laut, melainkan ditemukan dalam posisi terbalik dan masih mengapung di lautan.
Kepastian ini didapatkan dari hasil pemantauan udara dan laporan taktis armada helikopter penyelamat yang disiagakan di lokasi kejadian.
“Berdasarkan laporan dari helikopter yang turut melakukan pencarian, kapal belum dalam posisi tenggelam. Posisi kapal ditemukan dalam kondisi terbalik dan mengapung,” tegas Menhub Dudy Purwagandhi saat memimpin konferensi pers di Posko SAR Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin, Minggu (13/9/2026).
Titik Pencarian Difokuskan di Sekitar Bangkai Kapal
Dengan ditemukannya fisik kapal yang terbalik tersebut, Menhub menyampaikan bahwa tim SAR gabungan kini memusatkan radius operasi pencarian terhadap 136 penumpang yang masih hilang di area sekitar bangkai KMP Virgo Transport 08.
Hingga Minggu malam, tim gabungan telah mengevakuasi enam orang penumpang dari lokasi tersebut dalam kondisi meninggal dunia.
“Fokus penyisiran saat ini diarahkan ke area yang tidak jauh dari posisi kapal yang terbalik. Untuk total penumpang yang ditemukan meninggal dunia hingga saat ini berjumlah enam orang,” jelas Menhub.
Sinyal Darurat Sempat Menyala Sebelum Terbalik
Pada kesempatan yang sama, Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii membeberkan detik-detik sebelum bencana maritim tersebut terjadi. Menurutnya, nakhoda kapal sempat mengirimkan laporan bahaya usai kapal dihantam cuaca buruk di tengah jalur pelayaran.
Nakhoda bahkan telah mengaktifkan prosedur sinyal darurat (emergency signal) untuk meminta pertolongan armada terdekat.
“Pada saat itu kapal membutuhkan bantuan dan telah mengaktifkan sistem emergency untuk meminta pertolongan,” ungkap Mabsah Basarnas.
Syafii menambahkan, titik koordinat ditemukannya kapal terbalik tersebut berjarak sekitar 80 mil laut dari Pelabuhan Banjarmasin—yang membutuhkan waktu tempuh pelayaran sekitar enam jam perjalanan. Oleh karena itu, Kantor SAR Banjarmasin ditunjuk sebagai komando utama (SMC) dalam memimpin operasi penyelamatan masif ini.