Sebuah rekaman suara pilu menjadi bukti bisu perjuangan terakhir dr. Myta Aprilia Azmy, dokter magang lulusan Universitas Sriwijaya yang meninggal dunia setelah diduga menjalani beban kerja berlebih (overwork).
Dalam konferensi pers di Kantor Kemenkes, Kamis (7/5/2026), rekaman tersebut memperdengarkan suara Myta yang terputus-putus menahan sesak, sebuah potret kelam di balik pengabdian tenaga medis.
Demam 40 Derajat di Balik Masker IGD
Kisah ini bermula pada 1 April 2026. Meski suhu tubuhnya mencapai 40 derajat Celsius, dr. Myta masih berusaha bertahan di pos jaganya. Kepada seorang rekan senior, ia mengeluhkan kondisi fisiknya yang sudah berada di ambang batas.
“Iyo Bang, batuk pilek, demam, panas nian. Silau dak bisa buka mato,” keluh Myta dalam rekaman tersebut. Saat itu, napasnya terasa membakar, hidungnya panas, dan tubuhnya menggigil hebat meski suhu udara sedang tinggi.
Ia bahkan sempat ragu membuka masker karena takut menularkan penyakitnya, sebelum akhirnya dipaksa oleh rekannya untuk meminum obat karena rasa mual yang tak tertahankan.
Kado Ulang Tahun Berupa Infus
Ironi memuncak pada 13 April 2026. Di hari yang seharusnya menjadi perayaan ulang tahunnya, dr. Myta justru harus menerima cairan infus dari rekan sejawatnya demi tetap bisa berdiri. Alih-alih mendapatkan libur untuk memulihkan diri, kondisi fisiknya terus dipaksa bekerja di garis depan IGD hingga 15 April.
Pada hari itulah, sebuah pesan suara terakhir dikirimkan kepada rekannya, dr. Astri. Dengan suara yang sangat berat dan napas yang terengah-engah, Myta memohon bantuan.
“Astri… Aku… Aku mau minta tolong… Aku kayak… Enggak kuat, Astri,” rintihnya pelan. Pesan itu menjadi sinyal terakhir bahwa tubuhnya benar-benar telah menyerah pada kelelahan yang ekstrem.
Kondisi dr. Myta terus merosot tajam hingga pada 27 April ia dilarikan ke RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang. Dari ruang isolasi infeksi hingga masuk ke ruang ICU, tim medis berupaya menyelamatkan nyawanya.
Namun, kerusakan paru-paru yang berat akibat infeksi dan kelelahan fisik yang terakumulasi membuat nyawanya tak tertolong. Dokter muda ini dinyatakan meninggal dunia pada 1 Mei 2026.
Audit dan Investigasi Kemenkes
Kematian dr. Myta memicu gelombang protes dan keprihatinan terkait sistem kerja dokter magang (internsip) di Indonesia. Plt Inspektur Jenderal Kemenkes, Rudi Supriatna, menyatakan bahwa hasil investigasi menunjukkan dr. Myta tidak mendapatkan hak libur yang cukup meskipun kondisinya jelas sedang sakit.
Kini, Menteri Kesehatan telah meminta Majelis Disiplin Profesi untuk melakukan audit menyeluruh terhadap perawatan dr. Myta, sekaligus mengevaluasi jam kerja para dokter magang agar tragedi serupa tak perlu terulang kembali di masa depan.