JAKARTA – Gelombang panas ekstrem yang masih melanda Prancis memicu krisis serius di sektor peternakan setelah ratusan ribu unggas dilaporkan mati akibat suhu yang terus meningkat.
Sementara produksi susu dari sapi perah ikut mengalami penurunan signifikan karena ternak mengalami tekanan panas.
Kondisi cuaca yang tidak biasa tersebut kini menjadi tantangan besar bagi industri peternakan Prancis karena tingginya angka kematian hewan.
Hal ini membuat proses penanganan bangkai tidak lagi mampu berjalan normal sehingga pemerintah mulai mengkaji langkah darurat untuk mencegah dampak yang lebih luas.
Fenomena cuaca ekstrem yang terjadi di sejumlah wilayah Prancis itu juga memperlihatkan besarnya ancaman perubahan iklim terhadap sektor pangan karena bukan hanya memengaruhi kesehatan manusia.
Tetapi juga mengganggu produktivitas peternakan yang menjadi salah satu penopang ekonomi negara.
Berdasarkan laporan Reuters, lonjakan kematian unggas paling banyak terjadi di kawasan Brittany dan Pays de la Loire yang selama ini dikenal sebagai sentra utama produksi unggas di Prancis.
Jumlah bangkai unggas yang terus bertambah membuat fasilitas pengangkutan menuju lokasi pengolahan tidak mampu mengimbangi tingginya volume kematian.
Pemerintah mulai mempertimbangkan alternatif penguburan bangkai langsung di area peternakan setelah melalui pemeriksaan teknis serta aspek lingkungan.
Peternak ayam di Pays de la Loire, Clement Blanchard, menjadi salah satu pihak yang merasakan langsung dampak cuaca ekstrem tersebut setelah kehilangan sekitar 700 ekor ayam hanya dalam hitungan beberapa hari.
“Padahal, dalam kondisi normal jumlah kematian di peternakannya hanya satu hingga dua ekor per hari.”
Menurut Blanchard, suhu yang sangat tinggi membuat ayam kesulitan mempertahankan kondisi tubuhnya sehingga tingkat kematian meningkat tajam dalam waktu singkat.
Ia menilai situasi tersebut menjadi bukti bahwa dampak gelombang panas tidak hanya dirasakan manusia, tetapi juga mengancam kelangsungan hidup hewan ternak.
Ketua organisasi industri unggas Prancis ANVOL, Yann Nedelec, memperkirakan jumlah unggas yang mati kini telah mencapai ratusan ribu ekor meskipun proses pendataan masih terus berlangsung karena laporan dari berbagai daerah terus bertambah.
Wilayah Brittany dan Pays de la Loire diketahui menampung hampir 60 persen populasi unggas nasional sehingga tingginya angka kematian di dua kawasan tersebut memberikan dampak besar terhadap industri peternakan Prancis.
Prancis sendiri merupakan produsen unggas terbesar ketiga di Uni Eropa setelah Polandia dan Spanyol sehingga gangguan produksi berpotensi memengaruhi rantai pasok sektor pangan kawasan.
Dalam kondisi normal, bangkai unggas akan dikirim ke fasilitas pengolahan khusus sesuai prosedur yang berlaku.
Namun, jumlah kematian yang melonjak dalam waktu bersamaan membuat kapasitas layanan pengangkutan tidak lagi mampu menangani seluruh bangkai secara cepat sehingga diperlukan solusi darurat untuk mengurangi risiko kesehatan dan lingkungan.
Dampak cuaca ekstrem juga dirasakan peternak sapi perah karena suhu tinggi menyebabkan sapi mengalami stres panas yang berujung pada menurunnya konsumsi pakan serta meningkatnya kebutuhan air.
Kondisi tersebut berpengaruh langsung terhadap produktivitas susu yang mengalami penurunan cukup besar selama gelombang panas berlangsung.
Seorang peternak sapi perah di wilayah Angers mengungkapkan produksi susu di peternakannya turun sekitar 15 hingga 20 persen selama suhu tinggi melanda kawasan tersebut.
Menurutnya, sapi-sapi di kandang lebih banyak berkumpul di sekitar kipas angin untuk mendapatkan udara yang lebih sejuk karena kesulitan menghadapi panas yang terus meningkat.
Gelombang panas yang menerjang Eropa Barat dalam beberapa pekan terakhir telah menimbulkan berbagai dampak di banyak negara mulai dari meningkatnya korban jiwa, terganggunya aktivitas pendidikan, hingga menekan produktivitas sektor pertanian dan peternakan yang menjadi bagian penting dalam ketahanan pangan kawasan.***