JAKARTA – Presiden Rusia, Vladimir Putin, menekankan bahwa jalur diplomasi masih menjadi opsi utama untuk mengakhiri perang antara Rusia dan Ukraina.
Dalam pernyataan terbarunya, ia mengingatkan bahwa akal sehat dan kesepakatan negosiasi harus menjadi dasar penyelesaian konflik yang telah berlangsung lebih dari tiga tahun.
Putin menegaskan, meski Rusia memiliki kekuatan militer yang signifikan, ia tetap berharap solusi damai bisa tercapai jika kedua belah pihak bersedia menekankan rasionalitas.
“Jika diperlukan, Rusia siap menyelesaikan perang dengan kekuatan militer. Sepertinya bagi saya, jika akal sehat menang, akan mungkin dicapai solusi yang dapat diterima untuk mengakhiri konflik ini,” kata Putin, dikutip dari Reuters pada Sabtu (6/9/2025).
Selain itu, Putin menekankan pentingnya Ukraina memahami kapasitas militer Rusia. Ia memperingatkan bahwa jika diplomasi gagal, Rusia tidak akan ragu menggunakan kekuatan senjata untuk menyelesaikan “tugas-tugas” yang dianggap penting.
Putin juga menyebutkan bahwa ada peluang nyata untuk perdamaian. Ia menilai Amerika Serikat menunjukkan keseriusan dalam mencari jalan keluar, bukan sekadar retorika politik.
Menurutnya, upaya yang dilakukan pemerintahan Presiden Donald Trump menunjukkan niat tulus untuk meredakan ketegangan.
Namun, Putin menegaskan bahwa jika negosiasi tidak berhasil, opsi militer tetap akan dijalankan.
Posisi Rusia tetap konsisten menolak kemungkinan Ukraina bergabung dengan NATO.
Meski membuka kemungkinan dialog, ia menyatakan bahwa pertemuan dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy hanya akan berlangsung di Moskow dan harus dipersiapkan secara matang.
Zelenskiy sendiri tetap mendorong pertemuan dengan Putin, berharap bisa membahas syarat-syarat tercapainya kesepakatan damai.
Namun, hingga kini, kedua pihak masih menunjukkan perbedaan pandangan yang signifikan.
Tekanan internasional, termasuk desakan Zelenskiy kepada AS untuk memberlakukan sanksi lebih keras terhadap Rusia, menambah kompleksitas negosiasi.
Di sisi lain, Trump berperan sebagai mediator yang mencoba mempertemukan kedua pemimpin.***