MOSKOW, RUSSIA – Pasukan Rusia kembali menunjukkan kekuatan militernya dengan melancarkan serangan presisi tinggi terhadap pangkalan udara militer Ukraina pada Kamis (27/6/2025). Serangan ini menggunakan rudal hipersonik Kinzhal yang dikenal sulit dilacak, bersama senjata jarak jauh berbasis udara dan drone tempur.
Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim serangan tersebut berhasil menghantam infrastruktur strategis yang diduga disiapkan untuk menampung jet tempur F-16 buatan Amerika Serikat.
Menurut laporan Kementerian Pertahanan Rusia, operasi malam itu memanfaatkan kombinasi senjata canggih, termasuk sistem rudal balistik hipersonik Kinzhal dan kendaraan udara tak berawak (UAV).
“Tujuan serangan telah tercapai. Semua target yang ditetapkan telah terkena serangan,” demikian pernyataan resmi kementerian, seperti dikutip dari Russia Today.
Meski Moskow tidak menyebutkan lokasi pasti pangkalan yang menjadi sasaran, sumber media Rusia dan Ukraina menyebutkan bahwa serangan tersebut kemungkinan menargetkan pangkalan udara Starokonstantinov di wilayah Khmelnytsky, Ukraina barat, yang dikenal sebagai salah satu fasilitas militer utama.
Serangan Strategis di Tengah Ketegangan Global
Serangan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Rusia dan negara-negara Barat yang memasok senjata ke Ukraina. Pangkalan udara yang diserang diyakini sedang dipersiapkan untuk menerima pasokan jet tempur F-16 dari sekutu NATO, meskipun pengiriman pesawat tersebut belum terealisasi. Rusia telah berulang kali memperingatkan bahwa segala bentuk bantuan militer Barat, termasuk jet tempur dan fasilitas pendukungnya, akan menjadi target sah bagi pasukannya.
Ketua Komite Pertahanan Duma Negara Rusia, Andrey Kartapolov, menegaskan bahwa pangkalan udara di negara-negara NATO yang menampung jet tempur untuk Ukraina juga dapat menjadi sasaran serangan. “Jika F-16 yang dipasok Barat digunakan oleh Kyiv dalam operasi tempur saat ditempatkan di lapangan udara NATO, maka fasilitas tersebut juga akan menjadi target sah bagi Moskow,” ujarnya.
Kinzhal: Senjata Hipersonik yang Menakutkan
Rudal Kinzhal, yang berarti “belati” dalam bahasa Rusia, menjadi sorotan dalam serangan ini. Dengan kecepatan mencapai Mach 10 (12.250 km/jam) dan kemampuan manuver yang sulit dilacak, rudal ini dianggap sebagai salah satu senjata paling mematikan di arsenal Rusia. Diluncurkan dari jet tempur seperti MiG-31K, Kinzhal mampu membawa hulu ledak konvensional maupun nuklir dengan jangkauan hingga 2.000 kilometer.
Meski Rusia mengklaim Kinzhal hampir tak bisa dicegat, Ukraina sebelumnya pernah menyatakan berhasil menembak jatuh rudal ini menggunakan sistem pertahanan udara Patriot buatan AS. Namun, pakar militer Rusia, Alexey Leonkov, meragukan klaim tersebut, menyebutkan bahwa kecepatan dan teknologi Kinzhal melampaui kemampuan sistem Patriot. “Radar SAM tidak dapat melacak Kinzhal karena batas kecepatan target yang dicegat mencapai Mach 3,” ungkap Leonkov.
Dampak dan Implikasi Regional
Serangan ini menambah panjang daftar aksi militer Rusia terhadap infrastruktur strategis Ukraina. Selama sepekan terakhir, Rusia dilaporkan melakukan enam serangan kelompok menggunakan senjata presisi tinggi dan drone. Pangkalan Starokonstantinov, yang diduga menjadi target, telah berulang kali diserang karena perannya sebagai pusat operasi udara Ukraina.
Di sisi lain, Ukraina masih berjuang menghadapi keterbatasan pilot untuk mengoperasikan jet F-16 yang dijanjikan Barat. Kepala penerbangan Komando Angkatan Udara Ukraina, Sergey Golubtsov, mengusulkan agar sebagian jet ditempatkan di pangkalan NATO di negara tetangga. Namun, Penasihat Keamanan Nasional AS, Jake Sullivan, menegaskan bahwa berdasarkan perjanjian keamanan AS-Ukraina, jet tempur tersebut harus ditempatkan di wilayah Ukraina.
Eskalasi Konflik dan Peringatan Rusia
Serangan ini menjadi sinyal kuat dari Moskow bahwa mereka tidak akan mentolerir peningkatan kehadiran militer Barat di Ukraina. Dengan rudal hipersonik Kinzhal sebagai ujung tombak, Rusia menunjukkan kesiapan untuk menargetkan aset-aset strategis yang dianggap mengancam keamanannya. Konflik ini terus memicu kekhawatiran akan eskalasi lebih lanjut, terutama dengan keterlibatan negara-negara NATO dalam mendukung Ukraina.
Sementara itu, komunitas internasional terus memantau perkembangan situasi, dengan harapan agar ketegangan dapat diredam melalui jalur diplomatik. Namun, dengan intensitas serangan yang terus meningkat, prospek damai tampaknya masih jauh dari kenyataan.



