Raksasa otomotif asal Jerman, Volkswagen (VW), kini tengah berada di ambang keputusan paling ekstrem dalam 89 tahun sejarah berdirinya perusahaan. Berdasarkan bocoran dokumen rahasia yang dihimpun Reuters, produsen mobil nomor dua di dunia ini sedang mempertimbangkan rencana penutupan empat pabrik besar di Jerman serta melipatgandakan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal hingga menyentuh angka 100.000 orang.
Langkah darurat ini terpaksa digodok oleh CEO VW, Oliver Blume, akibat gabungan tiga hantaman mematikan: gempuran agresif produsen mobil listrik (EV) murah asal China, tarif impor tinggi ke Amerika Serikat, serta anjloknya permintaan pasar di Eropa.
Peta Dampak: Restrukturisasi Terbesar Sepanjang Sejarah
Jika rencana radikal ini disetujui dalam pertemuan dewan pengawas pada 9 Juli mendatang, skala efisiensi ini akan menjadi perombakan terbesar di industri otomotif global sejak kebangkrutan General Motors (GM) pada kurun waktu 1990 dan 2009.
Lokasi pabrik yang terancam ditutup berada di Hanover, Zwickau, Emden, serta fasilitas produksi milik Audi di Neckarsulm. Kebijakan ini langsung membahayakan 45.000 lapangan kerja.
Tambahan penutupan pabrik tersebut akan mendongkrak total target pemangkasan karyawan menjadi 100.000 orang (dari rencana awal yang hanya 50.000 orang). Sebagai catatan, hampir 43% dari total 667.164 karyawan global VW berbasis di Jerman.
VW akan menyunat anggaran investasi global mereka sebesar 15%, menyisakan sekitar US$148 miliar untuk jangka waktu lima tahun ke depan.
Kabar buruk ini langsung direspons negatif oleh pasar finansial. Pada perdagangan Jumat (26/6/2026), saham Volkswagen merosot sebesar 3,4%, menyentuh level terendah dalam 16 tahun terakhir. Investor skeptis bahwa pemotongan biaya semata mampu menyelamatkan masa depan VW.
Tergusur BYD: Realitas Pahit Pasar China
Faktor terbesar di balik goyahnya takhta Volkswagen adalah hilangnya dominasi mereka di China—pasar otomotif terbesar di dunia. Bertahun-tahun bertengger di posisi pertama, posisi VW melorot ke peringkat kedua setelah digusur oleh raksasa EV lokal, BYD, pada 2024, dan merosot lagi ke peringkat ketiga pada 2025.
Berdasarkan data firma riset AlixPartners, pangsa pasar gabungan pabrikan mobil non-China ambruk drastis dari 57% pada tahun 2020 menjadi tinggal 32% pada tahun 2025. Skenarionya kini berbalik: merek-merek China seperti BYD, Chery, SAIC, dan Leapmotor justru melipatgandakan ekspansinya dan mulai menjajah pasar domestik VW di Eropa.
Menghadapi Tembok Besar Serikat Buruh
Upaya CEO Oliver Blume untuk mengeksekusi rencana ini dipastikan tidak akan berjalan mulus. Sektor ketenagakerjaan VW dikenal memiliki pengaruh politik yang sangat kuat. Serikat pekerja berpengaruh Jerman, IG Metall, bersama dewan pekerja langsung mengeluarkan pernyataan perang terbuka dan berjanji akan melakukan aksi mogok total demi menjegal rencana manajemen.
Selain itu, Perdana Menteri negara bagian Lower Saxony—selaku pemegang saham terbesar kedua di Volkswagen—juga secara tegas menyatakan menolak memberikan lampu hijau bagi penutupan pabrik di wilayahnya.