JAKARTA – Badan intelijen Rusia (FSB) menetapkan pendiri Telegram, Pavel Durov, sebagai buronan internasional. Ia dituduh memfasilitasi aktivitas terorisme lantaran platformnya menolak menghapus sejumlah akun dan unggahan yang terkait Ukraina.
FSB menyebut dinas intelijen Ukraina memanfaatkan Telegram untuk merencanakan sabotase, aksi teror, pembunuhan massal, hingga penipuan siber yang menelan banyak korban jiwa, termasuk perempuan dan anak-anak. Kerugian materiil akibat aktivitas tersebut diklaim mencapai miliaran dolar AS.
“Kepala administrasi Telegram, P Durov, telah didakwa sebagai bagian dari kasus pidana yang sedang berlangsung, atas dasar kejahatan berdasarkan Bab 1.1 Pasal 205.1 (bantuan terhadap aktivitas terorisme) dari KUHP Rusia, dia telah dimasukkan dalam daftar buronan internasional,” bunyi pernyataan, seperti dikutip dari Sputnik, Rabu (29/7/2026).
Sepanjang Juli, otoritas keamanan Rusia menangkap 46 warga yang menggunakan layanan kencan Telegram “Leomatch” di 16 wilayah. Beberapa di antaranya disebut menyerang aparat penegak hukum dan membakar fasilitas atas instruksi dinas rahasia Ukraina.
FSB menambahkan, agen Ukraina menyamar sebagai perempuan di layanan “Leomatch” untuk menjalin hubungan romantis dengan pemuda Rusia. Mereka mengirim geolokasi pertemuan di pusat perbelanjaan atau dekat fasilitas vital, lalu memberikan tiket film, konser, atau hadiah melalui tautan phishing.



